Periskop.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut perundingan damai antara Washington dan Teheran kini memasuki tahap akhir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik pasca perang Iran-Israel-AS awal tahun ini. Meski membuka peluang tercapainya kesepakatan, Trump tetap memberi sinyal ancaman militer masih mungkin terjadi jika negosiasi gagal.
"Kita sedang berada di tahap akhir perundingan dengan Iran. Kita lihat saja apa yang akan terjadi," kata Trump, Rabu (20/5).
Pernyataan itu muncul setelah beberapa pekan terakhir kawasan Timur Tengah kembali memanas akibat ancaman serangan lanjutan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Trump mengaku masih memberi ruang bagi diplomasi, namun tidak menutup kemungkinan tindakan militer apabila Teheran tidak memberikan respons yang dianggap memuaskan Washington.
"Dia juga mengaku tidak tahu apakah perundingan itu akan mencapai kesepakatan atau mereka mengambil 'beberapa tindakan yang kurang menyenangkan'. Tetapi semoga hal itu tidak perlu terjadi," ujar Trump.
Presiden AS tersebut juga menepis anggapan, dirinya terburu-buru mencapai kesepakatan menjelang dinamika politik domestik Amerika Serikat, termasuk pemilu paruh waktu.
"Kami akan memberikan kesempatan pada kesepakatan ini," ucap Trump tentang potensi kesepakatan, menolak gagasan kompromi parsial.
"Saya tidak tergesa-gesa. Hanya karena pemilihan umum paruh waktu di depan mata, tidak berarti saya harus terburu-buru. Saya tidak tergesa-gesa," imbuhnya.
Pernyataan Trump sekaligus mengindikasikan, Washington tidak ingin hanya mencapai kesepakatan terbatas, misalnya terkait pembukaan jalur perdagangan energi di Selat Hormuz. Pemerintah AS disebut mengincar kesepakatan yang lebih luas menyangkut stabilitas kawasan dan keamanan strategis.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan sekitar 20% distribusi minyak global melewati jalur tersebut setiap harinya. Ketegangan di kawasan itu kerap memicu lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran gangguan rantai pasok energi global.
Turki Mediator
Di tengah negosiasi yang berlangsung, Trump juga mengungkap dirinya baru melakukan percakapan telepon yang disebut “sangat baik” dengan Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan. Turkiye saat ini dipandang menjadi salah satu mediator penting dalam komunikasi antara Washington dan Teheran.
Sementara itu, situasi di lapangan masih menunjukkan eskalasi ancaman. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa agresi baru dari AS dan Israel dapat memicu perang lebih luas hingga melampaui kawasan Asia Barat.
Pada saat bersamaan, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi juga memberikan peringatan keras melalui media sosial X. Ia menyebut upaya menghidupkan kembali perang terhadap Iran hanya akan membawa konsekuensi besar bagi Amerika Serikat.
Ketegangan terbaru ini berakar dari konflik besar yang pecah pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan sejumlah kota di Iran. Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Iran kemudian membalas melalui serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer serta aset Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah. Konflik tersebut sempat memicu kekhawatiran perang regional besar sebelum akhirnya gencatan senjata tercapai pada 8 April 2026.
Setelah gencatan senjata, perundingan damai sempat digelar di Islamabad, Pakistan, pada 11-12 April 2026. Namun, pembicaraan tersebut belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Dalam beberapa hari terakhir, tekanan politik kembali meningkat setelah pejabat AS dan Israel memberi sinyal kemungkinan operasi militer lanjutan terhadap Iran. Trump bahkan sempat mengeklaim para pemimpin Iran "memohon" agar kesepakatan segera tercapai.
Pengamat hubungan internasional menilai, negosiasi AS-Iran kali ini menjadi salah satu proses diplomasi paling krusial dalam beberapa tahun terakhir karena tidak hanya menyangkut keamanan Timur Tengah, tetapi juga stabilitas harga energi global, jalur perdagangan internasional, hingga keseimbangan geopolitik antara blok Barat dan negara-negara sekutu Iran seperti Rusia serta China.
Data Reuters dan International Crisis Group sebelumnya juga menunjukkan ketegangan di Timur Tengah sejak awal 2026 telah berdampak, pada volatilitas harga minyak mentah global serta meningkatkan risiko gangguan distribusi energi dunia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar