banner-sheroes-yoga
Internasional

Korban Banjir-Longsor Nepal Tembus 1.403 Jiwa, 6.150 Orang Masih Hilang

Korban tewas banjir bandang dan longsor Nepal mencapai 1.403 orang, sementara 6.150 masih hilang. Operasi pencarian berlanjut di terowongan PLTA

Korban Banjir-Longsor Nepal Tembus 1.403 Jiwa, 6.150 Orang Masih Hilang
Seorang pria mengamati puing-puing bangunan yang runtuh di sebuah kota di tepi Sungai Trishuli, Devighat, Nuwakot, Nepal, pada 31 Agustus 2026. dok. Anadolu/Daniel Ceng
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Korban tewas akibat banjir bandang dan longsor besar di Nepal terus bertambah. Hingga pembaruan Rabu (16/9/2026), otoritas mencatat 1.403 orang meninggal dunia dan 6.150 lainnya masih dinyatakan hilang, tiga pekan setelah bencana menerjang kawasan pegunungan di utara negara tersebut.

Data Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal (NDRRMA) menunjukkan sedikitnya 13.742 orang telah diselamatkan. Sebanyak 2.096 penyintas masih tinggal di 29 pusat penampungan yang tersebar di Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading. Dari keseluruhan orang hilang, 587 merupakan warga negara asing.

Angka korban hilang melonjak dibanding laporan sehari sebelumnya setelah pemerintah melakukan verifikasi ulang data dari wilayah terdampak. NDRRMA menaikkan jumlah orang hilang menjadi 6.150, sementara proses pencarian dan identifikasi jenazah masih berlangsung.

Bencana pada 26 Agustus itu bermula ketika bagian gletser dan batuan di kawasan Gunung Langtang Lirung runtuh dari pegunungan Himalaya. Material dalam volume besar masuk ke sistem Sungai Bhotekoshi-Trishuli dan memicu aliran air, lumpur, batu, serta puing yang bergerak cepat ke wilayah hilir. Dampaknya meluas ke Rasuwa, Nuwakot, Dhading dan sejumlah daerah lain.

Jenazah Kembali Ditemukan di Terowongan PLTA

Operasi pencarian kini antara lain difokuskan pada sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air yang tertimbun material banjir. Tim gabungan pada Rabu menemukan jasad dan bagian tubuh manusia di dalam terowongan PLTA Chilime di Distrik Rasuwa. Operasi berlangsung dalam kondisi sulit karena akses tertutup lumpur, air dan puing sehingga tim harus menggunakan alat berat hingga penyelam untuk mencapai bagian dalam terowongan.

Pada hari yang sama, lima jenazah juga ditemukan di salah satu terowongan proyek Upper Trishuli-1. Radio Nepal melaporkan jasad ditemukan ratusan meter di dalam struktur proyek dan sebagian dalam kondisi sulit dikenali.

Sektor pembangkit listrik menjadi salah satu yang paling terdampak. Associated Press melaporkan sedikitnya 13 proyek PLTA mengalami kerusakan, dengan sejumlah pekerja sempat terperangkap di dalam terowongan. Meski demikian, tim penyelamat sebelumnya berhasil menemukan beberapa pekerja dalam keadaan hidup.

Salah satu penyintas, Sanjay Sah, bahkan ditemukan hidup setelah sembilan hari terperangkap di terowongan Upper Trishuli 3A. Ia bertahan tanpa makanan dengan meminum air banjir dan rembesan air gunung sampai tim penyelamat berhasil menjangkaunya.

Baru 105 Korban Berhasil Diidentifikasi

Besarnya jumlah korban juga menimbulkan tantangan dalam proses identifikasi. Data resmi per 16 September menunjukkan pemerintah telah mengumpulkan 3.175 sampel DNA, terdiri atas 1.286 sampel dari jenazah dan bagian tubuh serta 1.889 sampel keluarga korban hilang. Namun, baru 105 korban yang berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarganya.

Dari 1.403 kematian yang masuk dalam pendataan NDRRMA, laporan situasi mencatat 336 korban perempuan, 544 laki-laki, sedangkan 523 lainnya berupa jenazah atau bagian tubuh yang belum dapat dikaitkan dengan identitas tertentu. Angka tersebut masih bersifat dinamis karena proses pencarian dan rekonsiliasi data terus dilakukan.

Pemerintah Nepal juga mendapat bantuan tim forensik dari sejumlah negara, termasuk India, China, Jepang, Singapura dan Korea Selatan, untuk mempercepat analisis DNA dan identifikasi korban.

Kerugian dan Pemulihan Diperkirakan Miliaran Dolar

Selain menelan korban jiwa, bencana menghancurkan rumah, jalan, jembatan, jaringan listrik dan fasilitas energi. Kajian awal pemerintah Nepal memperkirakan kerusakan langsung mencapai sekitar US$1,8 miliar, sementara kerugian ekonomi diperkirakan US$883 juta. Kebutuhan untuk pemulihan dan rekonstruksi secara keseluruhan ditaksir mencapai US$4,78 miliar.

Dari jumlah tersebut, sekitar US$57,67 juta diperlukan untuk kebutuhan pemulihan jangka pendek selama enam bulan ke depan, sementara sekitar US$4,71 miliar akan dibutuhkan untuk rekonstruksi jangka panjang.

"Ini angka yang diperlukan untuk pemulihan awal terhadap infrastruktur yang rusak serta penyediaan layanan dasar, seperti hunian sementara, makanan, layanan kesehatan, dan pendidikan," kata Kepala Otoritas Penanggulangan dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal Dharma Raj Uprety.

Kerusakan pembangkit listrik juga memukul sistem energi Nepal yang sangat bergantung pada tenaga air. India telah menyetujui ekspor listrik hingga 654 megawatt selama 18 jam per hari ke Nepal hingga akhir 2026 untuk membantu memenuhi kebutuhan setelah sejumlah fasilitas PLTA rusak.

Perubahan Iklim Diduga Memperparah Kerentanan Gletser

Kajian terbaru World Weather Attribution (WWA) menyebut perubahan iklim kemungkinan ikut meningkatkan kondisi yang membuat lereng gletser dan batuan Himalaya menjadi tidak stabil. Para peneliti menekankan pemanasan global bukan satu-satunya penyebab bencana, tetapi naiknya suhu telah mempercepat penipisan gletser serta pencairan es dan permafrost yang selama ini membantu menahan struktur lereng.

Wilayah terdampak disebut mengalami pemanasan sekitar 2 derajat Celsius dibanding masa praindustri. Juli dan Agustus 2026 juga termasuk periode terpanas yang tercatat secara lokal, sementara gletser Langtang Lirung telah mundur sekitar 500 meter sejak dekade 1990-an.

Temuan tersebut memperlihatkan risiko bencana pegunungan Himalaya tidak hanya berkaitan dengan hujan atau longsor biasa. Kombinasi pencairan gletser, ketidakstabilan batuan, topografi curam serta padatnya pembangunan di sepanjang lembah sungai dapat memperbesar dampaknya.

Dengan ribuan orang masih belum ditemukan, operasi pencarian di Nepal belum berakhir. Pemerintah terus mengerahkan personel, helikopter, drone hingga tim khusus ke terowongan PLTA dan kawasan yang tertimbun material, sementara jumlah korban masih berpotensi berubah seiring proses pencarian dan verifikasi data

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Nepal, dan banjir bandang dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.