Iklan
Internasional

Houthi Kuasai Pesisir Yaman, Bab al-Mandab Jadi Titik Panas Baru Timur Tengah

Houthi memperluas kekuasaan di pesisir Yaman hingga Bab al-Mandab. Konflik baru mengancam jalur minyak dunia di tengah ketegangan Iran dan Arab Saudi

Houthi Kuasai Pesisir Yaman, Bab al-Mandab Jadi Titik Panas Baru Timur Tengah
Ilustrasi- Peta Yaman dan Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur strategis perdagangan dan pengiriman energi dunia. dok. Google maps
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Konflik Yaman kembali menjadi salah satu titik panas utama Timur Tengah setelah kelompok Houthi atau Ansar Allah memperluas kekuasaannya di pesisir barat negara itu hingga mendekati Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur strategis perdagangan dan pengiriman energi dunia.

Dalam ofensif cepat pada September 2026, Houthi merebut Kota Pelabuhan Mokha dan Pulau Mayun atau Perim yang berada di tengah Bab al-Mandab. Perkembangan itu mengubah keseimbangan militer di Yaman sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Laut Merah.

Kekhawatiran semakin besar karena pada saat yang sama pelayaran minyak melalui Selat Hormuz juga terganggu akibat konflik Iran dan Amerika Serikat. Artinya, dua jalur sempit yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia kini sama-sama menghadapi risiko keamanan.

Asisten Sekretaris Jenderal PBB Khaled Khiari pada 15 September 2026 memperingatkan situasi di sekitar Bab al-Mandab telah memburuk. "Situasi di dalam dan di sekitar Selat Bab al-Mandab menjadi semakin tidak stabil dalam beberapa hari terakhir,” ujar Khiari dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB.

Mengapa Bab al-Mandab Begitu Penting?

Bab al-Mandab menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab. Kapal yang melewati jalur tersebut dapat melanjutkan perjalanan menuju Terusan Suez untuk menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa.

Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan sekitar 8,1 juta barel minyak dan produk petroleum per hari melewati Bab al-Mandab pada kuartal II 2026.

Angka tersebut meningkat dibandingkan rata-rata 4,2 juta barel per hari pada semester I 2025. Sementara arus minyak melalui Selat Hormuz justru turun menjadi sekitar 4,9 juta barel per hari pada kuartal II 2026, jauh di bawah 21,6 juta barel per hari pada kuartal IV 2025.

Kondisi itu membuat Bab al-Mandab semakin penting sebagai alternatif distribusi energi ketika jalur Hormuz terganggu. Bagi Arab Saudi, jalur Laut Merah juga strategis karena negara tersebut memiliki East-West Pipeline yang membawa minyak dari wilayah produksi di timur menuju terminal Yanbu di pesisir barat. Dari sana, minyak dapat dikirim tanpa harus terlebih dahulu melewati Hormuz.

Namun, penguatan posisi Houthi di pesisir barat Yaman membuat jalur alternatif tersebut ikut menghadapi risiko. Serangan terhadap infrastruktur minyak Saudi dan gangguan di sekitar Laut Merah dalam beberapa pekan terakhir telah meningkatkan biaya pengangkutan energi.

Meski demikian, penguasaan wilayah di sekitar selat tidak berarti seluruh pelayaran Bab al-Mandab berhenti. Pada 18 September tercatat 23 kapal komoditas masih melewati selat tersebut dalam sehari, sedikit di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 26 kapal.

Houthi Manfaatkan Perpecahan Lawan

Kemajuan cepat Houthi tidak terlepas dari lemahnya koordinasi kelompok-kelompok yang menjadi lawannya. Secara garis besar, Houthi menguasai Sanaa dan sebagian besar wilayah utara. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dijalankan melalui Presidential Leadership Council (PLC) dan memperoleh dukungan utama dari Arab Saudi.

Di luar itu terdapat berbagai faksi bersenjata anti-Houthi, termasuk Southern Transitional Council (STC) yang selama bertahun-tahun mendapat dukungan Uni Emirat Arab dan menginginkan berdirinya kembali negara Yaman Selatan.

Reuters mencatat kubu anti-Houthi tidak bekerja sebagai satu kekuatan terpadu. Kepentingan kelompok-kelompok di dalamnya berbeda, mulai dari mempertahankan Yaman sebagai satu negara hingga mendorong pemisahan wilayah selatan.

Pakar Yaman dari Arab Gulf States Institute, Gregory Johnsen, bahkan menggambarkan kondisi tersebut dengan singkat. “Mereka bukan satu kelompok,” kata Johnsen ketika membahas kekuatan anti-Houthi dalam wawancara PBS pada 10 September 2026.

Perpecahan semakin terbuka setelah hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memburuk di Yaman. Pada akhir 2025 dan awal Januari 2026, Saudi melancarkan serangan terhadap posisi STC di Hadramaut setelah kelompok separatis tersebut memperluas wilayah kekuasaannya. 

UEA kemudian menarik sisa pasukannya dari Yaman, sementara pasukan yang didukung Saudi mengambil kembali sejumlah wilayah yang sebelumnya direbut STC. Fragmentasi inilah yang kemudian menjadi salah satu kelemahan utama kubu anti-Houthi ketika kelompok tersebut melancarkan ofensif besar di pesisir barat.

Iran Mendapat Keuntungan Strategis, tetapi Houthi Bukan Sekadar Proksi

Perkembangan di Yaman juga berkaitan dengan persaingan regional antara Iran, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Iran selama bertahun-tahun memberikan dukungan kepada Houthi. Reuters melaporkan pada 10 September, berdasarkan sumber Iran, Yaman, dan regional, persenjataan serta bantuan penasihat Iran ikut berperan dalam operasi Houthi merebut Mokha.

AP pada 24 September juga melaporkan berdasarkan sejumlah sumber bahwa penasihat Iran membantu ofensif yang membuat Houthi menguasai pesisir Laut Merah dalam waktu kurang dari 48 jam.

Meski begitu, Houthi menolak anggapan, operasinya dikendalikan langsung oleh Teheran dan menyatakan mereka memiliki kemampuan militer sendiri. Karena itu, perkembangan di Bab al-Mandab lebih tepat dipandang sebagai peningkatan daya tekan kelompok yang bersekutu dengan Iran, bukan otomatis berarti Iran mengendalikan selat tersebut.

Secara strategis, situasi tetap menguntungkan posisi Teheran. Iran berhadapan dengan Amerika Serikat di sekitar Hormuz, sementara sekutunya di Yaman kini memiliki posisi militer lebih kuat di sekitar jalur masuk Laut Merah.

Jika konflik regional kembali meningkat, gangguan simultan pada Hormuz dan Bab al-Mandab berpotensi memberikan tekanan besar terhadap perdagangan energi dunia.

Trump Belum Beri Dukungan Militer Langsung

Arab Saudi dan pemerintah Yaman kini berusaha mencari dukungan internasional untuk menghadapi kemajuan Houthi. Presiden Yaman Rashad al-Alimi meminta bantuan militer kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam percakapan telepon pada 20 September. 

Namun, Trump tidak memberikan komitmen dukungan militer langsung. Saudi juga disebut telah mendorong Washington membantu menghadapi Houthi. Namun, pemerintahan Trump sejauh ini menahan diri untuk kembali melakukan serangan besar.

Situasinya menjadi rumit karena Amerika Serikat dan Houthi memiliki kesepakatan penghentian serangan yang dimediasi Oman sejak 6 Mei 2025. Dalam kesepakatan tersebut, kedua pihak berkomitmen tidak saling menyerang, termasuk terhadap kapal Amerika di Laut Merah dan Bab al-Mandab.

Reuters melaporkan Trump bahkan sempat mempertimbangkan serangan baru terhadap Houthi pada September 2026 sebelum akhirnya membatalkannya. Di tengah keraguan Washington, Saudi juga mencari dukungan dari negara lain. 

China dilaporkan telah meminta Iran membantu menahan Houthi setelah Riyadh menghubungi Beijing terkait eskalasi di Yaman. Pada 22 September, Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Mesir juga menyatakan pentingnya menjaga keamanan pelayaran dan mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Lebih dari 130 Ribu Warga Mengungsi

Di balik perebutan jalur strategis, eskalasi perang kembali membawa konsekuensi besar bagi warga Yaman. UNHCR mencatat lebih dari 130.000 orang mengungsi sejak awal September 2026 akibat meluasnya pertempuran. PBB memperkirakan 100.000 orang lainnya berpotensi kehilangan tempat tinggal dalam tiga bulan berikutnya apabila konflik terus meningkat.

Bahkan sebelum pertempuran terbaru, lebih dari 22 juta warga Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan. Konflik selama lebih dari satu dekade juga telah merusak ekonomi dan layanan dasar negara tersebut.

Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg sebelumnya memperingatkan bahwa kebangkitan perang kali ini bukan hanya persoalan domestik. “Perang yang kembali berkecamuk ini seharusnya membuat kita semua waspada,” ujar Grundberg.

Kemajuan Houthi di pesisir barat dengan demikian membuat konflik Yaman memasuki babak baru. Perebutan wilayah tetap menjadi persoalan domestik Yaman, tetapi letaknya di sekitar Bab al-Mandab membuat dampaknya dapat menjalar jauh melampaui negara tersebut.

Apabila keamanan Bab al-Mandab terus memburuk bersamaan dengan gangguan di Hormuz, konsekuensinya dapat berupa kenaikan ongkos pelayaran, perubahan rute kapal, tekanan terhadap pasokan minyak dan gas, serta volatilitas harga energi dunia.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai DK PBB, Houthi, dan Timur Tengah dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.