Periskop.id – Pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi pemasok dan penerapan biodiesel B50 untuk meredam dampak konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Langkah itu disiapkan ketika harga minyak dunia kembali mendekati US$100 per barel akibat ancaman gangguan jalur pelayaran strategis.
Strategi tersebut dibahas dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto bersama para menteri koordinator, menteri teknis, serta pimpinan TNI, Polri, dan Kejaksaan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (23/7).
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan pemerintah menyusun berbagai skenario apabila perang terus berlanjut dan mengganggu ketersediaan energi global.
"Intinya kita membahas dan sekaligus melakukan prediksi terhadap perkembangan situasi dunia, termasuk mengantisipasi jika perang berlarut di Timur Tengah sehingga berpengaruh pada pasokan energi dunia dan harga minyak," katanya.
Kekhawatiran pemerintah menguat setelah harga minyak Brent naik 4,8 persen menjadi 98,59 dolar AS per barel pada Kamis. Minyak West Texas Intermediate juga menembus 90,22 dolar AS per barel, menyusul meningkatnya ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Konflik Perbesar Risiko Kekurangan Minyak
Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum konflik. Pertempuran dan pembatasan pelayaran di kawasan tersebut membuat produksi serta ekspor minyak dari Teluk terganggu.
Survei Reuters terhadap delapan analis memperkirakan pasar minyak dunia mengalami defisit rata-rata 1,5 juta barel per hari sepanjang 2026. Proyeksi tersebut dua kali lebih besar dibandingkan perkiraan pada April, sekaligus berbalik dari prediksi surplus sebelum perang pecah.
Indonesia ikut menghadapi risiko karena masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi. Berdasarkan penjelasan pemerintah yang disampaikan kepada Komisi VI DPR, sekitar 20–25% impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz. Sekitar 30% impor LPG juga masih bergantung pada kawasan tersebut.
Gangguan pasokan dapat membuat biaya impor meningkat dan menambah tekanan terhadap APBN melalui subsidi maupun kompensasi energi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengatakan pemerintah telah menghitung skenario harga minyak hingga US$92 per barel, tetapi perkembangan terbaru menunjukkan Brent telah melampaui asumsi tersebut.
B50 Jadi Penyangga Impor Solar
Salah satu kebijakan utama yang disiapkan adalah mandatori B50, yakni campuran 50% biodiesel berbasis minyak sawit dan 50% solar. Pemerintah mulai menerapkannya pada semester kedua 2026 setelah menjalankan B40 selama enam bulan pertama.
AHY mengatakan pengembangan bahan bakar nabati menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor.
"Termasuk tentunya kita berharap tidak terlalu berpengaruh pada fokus pembangunan kita di sektor pangan," ujarnya.
Kementerian ESDM memperkirakan total alokasi biodiesel sepanjang 2026 mencapai 17,6 juta kiloliter. Penerapan B50 diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp157,28 triliun, menciptakan nilai tambah industri sawit Rp24,68 triliun, dan menurunkan emisi sebesar 46,72 juta ton setara karbon dioksida. Angka tersebut masih berupa proyeksi pemerintah yang bergantung pada kelancaran produksi, pencampuran, distribusi, dan penggunaan B50.
Program sebelumnya menunjukkan hasil dalam menekan impor. Sepanjang 2025, pemanfaatan B40 mencapai 14,2 juta kiloliter dan disebut mengurangi impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter, sekaligus menghemat devisa Rp130,21 triliun.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pengujian B50 telah mencakup kendaraan angkutan, alat berat, kapal, kereta api, dan mesin pertanian.
"Secara teknis sudah dilakukan uji coba yang dilakukan oleh tim kami dari Kementerian ESDM yang dipimpin oleh Ibu Dirjen EBTKE Prof. Eniya. Hasilnya sangat menggembirakan," ujar Bahlil.
Diversifikasi Pemasok Tetap Diperlukan
Biodiesel belum dapat menjawab seluruh kebutuhan energi Indonesia karena penggunaannya berfokus pada pengganti sebagian solar. Pemerintah tetap perlu mengamankan pasokan minyak mentah, bensin, LPG, serta komoditas energi lain dari berbagai negara.
Sebelumnya, sebagian impor minyak mentah telah dialihkan dari Timur Tengah menuju Amerika Serikat. Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu kawasan, tetapi pemerintah tetap perlu mempertimbangkan harga, kualitas minyak, biaya pengangkutan, dan kesesuaian dengan fasilitas pengolahan dalam negeri.
Penguatan produksi migas domestik, peningkatan kapasitas penyimpanan, energi terbarukan, dan penggantian pembangkit listrik tenaga diesel juga masuk dalam strategi jangka panjang. Bahlil sebelumnya menyebut pembangkit yang masih menggunakan solar akan dikonversi secara bertahap karena situasi perang membuat pasokan energi global sulit dipastikan.
AHY mengatakan pembangunan infrastruktur dan konektivitas akan diarahkan untuk mendukung berbagai kebijakan tersebut.
"Kalau kami dari sisi infrastruktur, tentunya ingin mendukung agar apa yang menjadi prioritas negara dapat kami dukung dengan baik melalui infrastruktur dan konektivitas," katanya.
Infrastruktur yang dibutuhkan mencakup fasilitas pencampuran dan distribusi biodiesel, terminal bahan bakar, jalur logistik, serta konektivitas menuju sentra produksi pangan dan energi.
Pemerintah Jaga Energi dan Pangan
Selain membahas ketahanan energi, rapat terbatas menyoroti risiko konflik global terhadap pembangunan pangan dan kondisi ekonomi masyarakat. Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi biaya angkutan, produksi, pupuk, dan distribusi bahan pokok.
Pemerintah berupaya menjaga agar kebijakan mitigasi energi tidak mengganggu program prioritas serta daya beli masyarakat. Penyederhanaan regulasi juga dibahas agar keputusan dapat dijalankan lebih cepat di tengah situasi global yang berubah.
"Pada umumnya tentang ekonomi dan bagaimana pemerintah bisa terus hadir melalui kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat untuk membantu masyarakat kita yang membutuhkan, dan menyiapkan berbagai kebijakan yang lebih menyederhanakan lagi. Kira-kira begitu," pungkas dia.
Dengan harga minyak yang kembali mendekati US$100 per barel, B50 menjadi salah satu bantalan penting bagi Indonesia. Namun, ketahanan energi tetap akan bergantung pada kombinasi diversifikasi pemasok, produksi dalam negeri, cadangan yang memadai, efisiensi konsumsi, dan percepatan energi terbarukan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar