Periskop.id - Iran mengancam menghentikan seluruh ekspor energi dari kawasan Timur Tengah. Ancaman itu dilontarkan Iran sebagai respons atas blokade Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran yang berlaku sejak Rabu (15/7) pagi.

Presiden AS Donald Trump di sisi lain menegaskan akan terus menyerang seluruh fasilitas Iran yang terkait program pengembangan nuklir. Ia mengaku tengah mempertimbangkan perluasan serangan pekan depan.

"Ekspor energi regional bisa dinikmati untuk semua atau dilarang untuk siapapun," kata Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam pernyataan resminya, Rabu (15/7).

IRGC menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai AS mengakhiri seluruh serangannya. Penutupan ini berpotensi mengganggu pengiriman minyak mentah dan gas di jalur yang menjadi titik penting bagi 20% pasokan energi dunia.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menambahkan, blokade AS tersebut melanggar memorandum Islamabad. Kesepakatan sementara itu sebelumnya dibuat untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka sekaligus membuka ruang negosiasi menuju perdamaian permanen.

Juru Bicara Pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani menyebutkan, sedikitnya 30 warga sipil tewas akibat serangan AS di Iran selatan dalam beberapa hari terakhir. Ia mengungkapkan hal itu terkait rentetan serangan yang terjadi menjelang blokade diberlakukan.

Blokade terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran mulai berlaku Rabu (15/7) pagi. Aksi tersebut diikuti serangan selama 90 menit terhadap sistem pertahanan pantai dan fasilitas rudal Iran.

Otoritas Iran menyebutkan, serangan AS sehari sebelumnya menewaskan sedikitnya tujuh tentara dan melukai lebih dari 300 warga sipil. Jumlah korban itu tercatat sebagai yang tertinggi dari setiap putaran konflik kedua negara belakangan ini.

Iran pun membalas dengan menutup kembali Selat Hormuz serta melancarkan serangkaian serangan udara ke sejumlah negara Timur Tengah yang menampung pangkalan dan fasilitas militer AS. Eskalasi ini turut memicu kenaikan harga minyak dunia.

Harga minyak mentah pada Rabu kemarin tercatat terus naik dan menembus level tertinggi dalam sebulan terakhir. Kondisi tersebut menegaskan rentannya pasokan energi global terhadap gejolak geopolitik di Timur Tengah, demikian dilaporkan The Guardian, Jumat (17/7/2026).