Iklan
Internasional

Sanksi AS Bikin Maskapai Iran Kehilangan Rute Internasional

Sanksi baru AS bikin sejumlah maskapai Iran kehilangan rute internasional. Georgia dan Azerbaijan sudah hentikan layanan, sementara China tetap terbang ke Iran.

Sanksi AS Bikin Maskapai Iran Kehilangan Rute Internasional
Salah satu pesawat IranAir. Wikimedia/Alan Wilson
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Amerika Serikat memperketat sanksi terhadap industri penerbangan Iran, memicu pembatalan sejumlah rute internasional mulai Rabu (24/9). Georgia dan Azerbaijan telah mengonfirmasi penghentian layanan penerbangan dari Iran, sementara rute ke Baghdad, Muscat, dan Qatar ikut terdampak.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyebutkan, kebijakan pengetatan sanksi tersebut menyasar hampir seluruh jalur penerbangan internasional Iran. Ia mengklaim sekitar 80-90% penerbangan internasional dari Iran terdampak oleh langkah tersebut.

"Kami sedang menekan Iran dengan cara yang belum pernah mereka alami sebelumnya," kata Bessent dalam wawancara dengan Fox News, Senin (21/9).

Kebijakan itu menjadi bagian dari tekanan ekonomi terbaru Washington terhadap Teheran, setelah hampir tujuh bulan konflik berlangsung. Saat kebijakan ini diumumkan, Presiden Iran Massoud Pezeshkian justru tengah berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Saya bahkan tidak yakin bagaimana delegasi Iran di PBB akan pulang ke negaranya," tambah Bessent.

Menanggapi tekanan tersebut, Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan menyerah pada sanksi baru ini. Ia menilai perlawanan rakyat Iran justru akan semakin kuat menghadapi tekanan dari Washington.

Meski begitu, tidak semua jalur penerbangan Iran terputus. Data FlightRadar24 menunjukkan pesawat Mahan Air, salah satu maskapai terbesar Iran, berhasil mendarat di Guangzhou, China, pada Rabu. Penerbangan dari Teheran menuju Shanghai pun masih dijadwalkan beroperasi, sejalan dengan sikap China yang menolak sanksi baru itu dan menyebutnya sebagai langkah tidak sah.

Rute menuju Istanbul juga belum sepenuhnya berhenti. Seorang agen perjalanan di Teheran menyebutkan sebagian penerbangan ke kota terbesar Turki itu masih tersedia, meski sebagian lainnya sudah dibatalkan.

"Situasinya masih berubah-ubah. Untuk sementara kami tidak lagi menjual tiket karena khawatir terjadi pembatalan mendadak," kata agen perjalanan tersebut.

Penerbangan Mahan Air dari Kabul ke Teheran juga masih berlangsung normal. Maskapai kecil lain seperti Varesh Airlines pun masih melayani rute ke Turki dan Armenia, sementara jalur menuju Najaf di Irak dan Dubai di Uni Emirat Arab tetap tercantum dalam jadwal.

Di sisi lain, Iran mulai melontarkan peringatan kepada negara-negara yang berencana mengikuti kebijakan AS. Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengingatkan, negara yang bekerja sama dengan Washington bisa menghadapi konsekuensi berupa larangan penerbangan dari dan ke Iran.

"Jika suatu negara ikut bekerja sama dengan Amerika Serikat, maka bandara mereka tidak akan lagi bisa melayani penerbangan ke Iran," katanya dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran.

Kantor berita Tasnim melaporkan bandara Baghdad dan Muscat kini tidak lagi menerima penerbangan dari Iran, sementara rute ke Istanbul disebut masih beroperasi seperti biasa. Otoritas penerbangan Iran pun tengah membahas kemungkinan mengalihkan penerbangan tujuan Baghdad ke Najaf, salah satu kota tujuan utama peziarah asal Iran.

Di Najaf sendiri, situasi masih relatif normal. Tasnim melaporkan penerbangan Iran ke kota tersebut tetap berjalan, dan pengelola bandara mengaku belum menerima instruksi resmi dari pemerintah Irak untuk menghentikan layanan. Meski begitu, sejumlah sumber AFP, termasuk seorang pejabat senior Irak, menyebutkan pemerintah Baghdad kemungkinan besar akan mematuhi kebijakan Washington.

Sektor penerbangan Iran sebenarnya sudah lama hidup di bawah bayang-bayang sanksi internasional. Karena itu, masih belum jelas berapa banyak negara yang benar-benar akan mengikuti kebijakan AS kali ini. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku industri perjalanan waswas. Haidar Shamaa, pemilik biro perjalanan di Najaf, menyebutkan sebagian besar bisnisnya bergantung pada penerbangan menuju Iran. Menurutnya, banyak pelanggan kini panik dan terus mencari informasi terbaru, bahkan mulai mempertimbangkan perjalanan darat sebagai alternatif meski waktu tempuhnya jauh lebih lama.

"Perlawanan rakyat Iran hanya akan semakin kuat menghadapi sanksi, tekanan, dan intimidasi dari Amerika Serikat," kata Pezeshkian.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai AS-Israel Serang Iran, dan perang iran dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.