periskop.id - Sepanjang tahun 2025, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menerbitkan sebanyak delapan seri Surat Berharga Negara (SBN) Ritel dengan capaian total nominal penerbitan Rp153 triliun. Dari penerbitan tersebut, jumlah investor tercatat sebanyak 262.927 orang.
Plt Direktur Surat Utang Negara (SUN) Novi Puspita Wardani mengatakan delapan seri SBN ritel yang diterbitkan meliputi ORI027, ST014, SR022, SBR014, SR023, SWR006, ORI028, dan ST015.
"Di sini ada 8 seri yang diterbitkan ranging dari yang ORI 27 itu sampai dengan yang terakhir sukuk tabungan 15. Ini tahun 2025," kata Novi dalam konferensi pers, Jakarta, Senin (26/1).
Novi menjelaskan capaian nominal penerbitan tersebut menunjukkan instrumen ini semakin banyak dikenal dan literasi keuangan masyarakat juga semakin terbuka.
"Artinya semakin masyarakat Indonesia terliterit secara finansial, itu artinya yang mereka akan terbuka dengan instrumen-instrumen investasi yang ada," jelas Novi.
Dari sisi komposisi gender, Novi menyebut investor SBN ritel didominasi oleh perempuan sebesar 58%, sementara laki-laki sebesar 42%.
Berdasarkan kelompok generasi, investor paling banyak berasal dari generasi milenial yang lahir 1980–2000 dengan porsi 51%. Disusul Generasi X 1965–1979 sebesar 29%, baby boomers 1946–1964 sebesar 14%, Generasi Z di atas 2000 sebesar 6%, serta generasi tradisional 1928–1945 sebesar 1%.
Dari sisi profesi, investor SBN ritel paling banyak berasal dari pegawai swasta dengan porsi 33%, diikuti wiraswasta 18%, pelajar/mahasiswa 12%, ibu rumah tangga 9%, lainnya 9 persen, PNS 7 persen, pegawai otoritas/lembaga BUMN/BUMD 4%, profesional 4%, pensiunan 3%, serta TNI/Polri 1%.
Sementara berdasarkan wilayah, investor SBN ritel paling banyak berasal dari Indonesia Barat (selain DKI Jakarta) dengan porsi 62,1%, disusul DKI Jakarta 27,7%, Indonesia Tengah 9,7%, dan Indonesia Timur 0,5%.
"So basically kalau kita tambahkan disini, antara Indonesia Barat dengan yang DKI Jakarta itu hampir majority disini, sementara Indonesia tengah itu hanya 9,7%. Ini artinya apa? Ini menunjukkan sebenarnya tantangan, tapi sekaligus juga harapan ke depan," tutup Novi.
Tinggalkan Komentar
Komentar