periskop.id - Cakupan imunisasi bayi dan baduta (bawah dua tahun) lengkap di Indonesia hingga akhir 2025 masih belum merata dan belum mencapai target nasional. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, capaian imunisasi bayi lengkap secara nasional baru mencapai 68,6% per 14 Desember 2025, jauh di bawah target prioritas tahun ini sebesar 80%.
Direktur Imunisasi Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Indri Yogyaswari, mengungkapkan bahwa capaian tersebut dihimpun dari laporan imunisasi rutin seluruh daerah. Ia menuturkan, angka tersebut dinilai belum cukup untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
“Target prioritas kita pada 2025 adalah cakupan imunisasi bayi lengkap sebesar 80%, namun hingga pertengahan Desember baru tercapai 68,6%,” ujar Indri dalam media briefing bersama wartawan di Gedung Direktorat Jenderal SDM Kesehatan, Jakarta, dikutip Minggu (21/12).
Imunisasi bayi lengkap mencakup sejumlah vaksin dasar, antara lain hepatitis B dosis lahir, BCG, polio, DPT-HB-Hib, serta campak-rubela (MR). Berdasarkan evaluasi Kemenkes, beberapa jenis imunisasi, khususnya DPT-HB-Hib dan campak-rubela dosis lanjutan, masih belum merata cakupannya di sejumlah wilayah, terutama di daerah terpencil, perbatasan, dan kawasan dengan tantangan sosial budaya yang kuat.
Indri menuturkan, rendahnya cakupan imunisasi tidak semata disebabkan oleh keterbatasan layanan kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor keluarga dan sosial. Salah satu alasan utama anak tidak mendapatkan imunisasi adalah tidak adanya izin dari pihak keluarga.
“Alasan paling banyak itu karena keluarga tidak mengizinkan. Biasanya, ketika anak mau diimunisasi, ibunya akan bilang, ‘nanti tanya dulu ke bapaknya’,” kata Indri.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak terlepas dari budaya patriarki yang masih kuat di sejumlah daerah, di mana keputusan kesehatan anak sering kali ditentukan oleh kepala keluarga, bukan oleh ibu sebagai pengasuh utama.
Selain faktor izin keluarga, kekhawatiran orang tua terhadap efek samping imunisasi juga menjadi penghambat. Banyak orang tua takut anaknya mengalami demam atau reaksi lain setelah disuntik vaksin.
Indri menegaskan, demam ringan pascaimunisasi merupakan reaksi yang wajar dan menandakan bahwa tubuh anak sedang membentuk antibodi. “Itu bukan penyakit, tapi proses tubuh membangun kekebalan. Justru itu tanda bahwa vaksin bekerja,” ujarnya.
Kemenkes terus mendorong pemerintah daerah dan tenaga kesehatan untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi, termasuk melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama guna mengatasi penolakan berbasis kepercayaan.
Pemerintah juga menekankan bahwa imunisasi dasar lengkap merupakan hak setiap anak dan menjadi salah satu kunci pencegahan kejadian luar biasa penyakit menular di Indonesia.
Tinggalkan Komentar
Komentar