periskop.id - Kementerian Kesehatan mulai menyiapkan imunisasi heksavalen sebagai bagian dari penguatan program perlindungan kesehatan anak. Vaksin ini dirancang untuk memudahkan proses imunisasi karena menggabungkan beberapa jenis vaksin yang selama ini diberikan secara terpisah.
Imunisasi heksavalen yang digunakan merupakan vaksin kombinasi DPT-Hb-Hib-IPV. Artinya, satu kali suntikan dapat memberikan perlindungan terhadap enam penyakit menular sekaligus. Pemberian vaksin dilakukan sebanyak tiga dosis, yakni saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan.
Penggabungan vaksin ini merupakan terobosan dalam pelayanan imunisasi anak. Selama ini, anak harus menerima lebih dari satu suntikan untuk mendapatkan perlindungan yang sama. Dengan heksavalen, jumlah suntikan dapat dikurangi sehingga proses imunisasi menjadi lebih praktis dan efisien.
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, Indri Yogyaswari, menjelaskan bahwa inovasi tersebut tidak menghadirkan kandungan vaksin baru. Perubahan dilakukan pada cara pemberiannya agar lebih mudah diterapkan di lapangan.
“Isinya sebenarnya sudah lama digunakan, hanya sekarang digabung agar pemberiannya lebih sederhana. Dari dua suntikan, cukup satu suntikan saja,” ujarnya dalam temu media di Jakarta Selatan, pada Senin (22/12).
Selain mempermudah layanan, Kemenkes menilai vaksin heksavalen dapat membantu mengatasi kesenjangan cakupan imunisasi, khususnya antara imunisasi pentavalen dan IPV. Dengan penggabungan ini, diharapkan perlindungan terhadap polio dapat lebih merata dan target eradikasi penyakit tersebut dapat tercapai lebih cepat.
Secara medis, imunisasi heksavalen berfungsi mencegah difteri, pertusis, tetanus, polio, hepatitis B, serta infeksi Haemophilus influenzae tipe B yang dapat menyebabkan pneumonia dan radang selaput otak.
Saat ini, pelaksanaan imunisasi heksavalen masih terbatas di sembilan provinsi, yakni DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Bali, Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya. Program ini akan diperluas secara bertahap hingga diterapkan secara nasional pada 2026.
Masyarakat dapat mengakses layanan imunisasi heksavalen di berbagai fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan imunisasi, seperti puskesmas dan posyandu. Orang tua juga diminta membawa buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) agar riwayat imunisasi anak dapat tercatat dan dipantau dengan baik.
Tinggalkan Komentar
Komentar