Periskop.id - Pemerintah Kota Jakarta Selatan (Pemkot Jaksel) mengimbau warga menggunakan masker, sebagai langkah antisipasi penyebaran influenza, termasuk superflu, pada musim hujan.
“Meski di Jakarta belum terjadi (penularan), langkah antisipasi tetap dilakukan,” kata Wali Kota Jakarta Selatan Muhammad Anwar saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (19/1).
Anwar mengatakan, sosialisasi pencegahan telah dilakukan melalui Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan. Ia mengimbau warga menggunakan masker terutama saat berada di kerumunan atau ketika mengalami gejala kurang sehat, agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
Imbauan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam menjaga kesehatan masyarakat di tengah kondisi cuaca ekstrem. "Kalau memang kurang sehat pakai masker, jangan sampai kita membawa penyakit," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan Debi Intan Suri menyatakan, istilah super flu tidak ada dalam diagnosa penyakit apapun. Dia menegaskan super flu merupakan istilah untuk varian virus influenza A(H3N2) subclade K.
Dia menambahkan, influenza terjadi secara musiman, tergantung situasi dan kondisi yang tengah terjadi di masyarakat, seperti perubahan cuaca. Gejala influenza tipe tersebut, kata dia, juga terbilang sama seperti flu biasa, yakni demam, menggigil, batuk, pilek serta nyeri saat menelan.
"Gejalanya sama seperti flu lainnya, seperti demam, menggigil, batuk, pilek, serta nyeri menelan. Jika hal ini terjadi pada masyarakat kita, ya, segera berobat seperti influenza-influenza lainnya," ujar Debi.
Oleh sebab itu, dia mengimbau kepada masyarakat agar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), guna mencegah penyebaran virus selama musim hujan.
Kemudian, kata dia, mengonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan olahraga untuk menjaga daya imun tubuh. Lalu, mengenakan masker untuk pencegahan lebih lanjut.
Lebih lanjut, Sudinkes Jakarta Selatan memastikan fasilitas pengobatan influenza telah tersedia di puskesmas maupun rumah sakit di Jakarta Selatan.
62 Kasus
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menyatakan, lebih dari 62 kasus superflu terdeteksi di wilayah Indonesia. Tetapi hal tersebut tidak perlu menjadi kekhawatiran karena masih dalam batas aman.
"Superflu aman, kalau enggak salah, superflu itu influenza A (H3N2) subclade K, itu terjadi pertama kali di Amerika. Maka, untuk hari ini kasus di Indonesia kan baru 62 yang diperiksa secara laboratorium ya, untuk vaksinnya kita biasa aja, vaksin (influenza) seperti biasa," ucapnya kamis (8/1). .
Benjamin menegaskan, kasus flu selama dua bulan terakhir juga sudah turun. Peningkatan hanya terjadi di awal peralihan musim kemarau ke musim hujan, begitu pula sebaliknya.
"Tapi ingat, hari ini kasus flu sudah turun jauh selama dua bulan ini. Dua minggu terakhir kan juga sudah makin turun, jadi flu itu selalu memuncak di awal musim," tuturnya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sendiri sudah memastikan, influenza A (H3N2) subclade K atau yang disebut sebagai superflu sudah ada sejak lama. Menurutnya, flu ini seperti flu biasa dan tidak mematikan seperti covid-19 atau tuberkulosis (TBC).
"Jadi nggak usah khawatir bahwa ini seperti COVID-19 mematikannya. Tidak. Ini adalah flu biasa. Influenza H3N2," kata Budi.
Layaknya flu biasa, ujar Budi, penyakit itu bisa kembali lagi atau berulang terjadi. Setiap musim dingin, imbuhnya, kasus akibat virus itu selalu naik di negara empat musim, namun di negara seperti Indonesia tidak terlalu tinggi kenaikannya.
"Itu sebabnya di negara-negara tersebut ada vaksin influenza setiap tahun yang mereka suntikkan," serunya.
Meski tidak seberbahaya covid-19, dia mengingatkan untuk tetap menjaga kesehatan dan imunitas dengan istirahat yang cukup, berolahraga yang rutin.
Tinggalkan Komentar
Komentar