Periskop.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan situasi influenza A(H3N2) subclade K atau super flu di Indonesia dalam kondisi terkendali. Sekalipun subclade ini terdeteksi di 13 provinsi, tren kasus influenza secara nasional menunjukkan penurunan pada awal 2026.

Data Kemenkes mencatat, sejak 1 Januari 2025 hingga 10 Januari 2026 terdapat 74 kasus subclade K dari total 204 spesimen influenza A(H3N2) yang diperiksa, dengan temuan terbanyak di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan. Puncak kasus terjadi pada minggu ke-40 tahun 2025 dan terus menurun sejak minggu ke-44. Tidak ada penambahan penemuan kasus A(H3N2) subclade K mulai minggu ke-52.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes Prima Yosephine di Jakarta, Selasa (20/1) mengatakan, virus Influenza H3N2 bukan virus baru dan merupakan bagian dari influenza musiman yang beredar setiap tahun.

“H3N2 merupakan bagian dari influenza musiman. Pertengahan Januari 2025, H3N2 subclade K telah dilaporkan di 80 negara, termasuk Indonesia dengan kasus pertama terdeteksi pada M36. Namun, berdasarkan hasil pemantauan, tren kasus influenza di Indonesia telah menurun, sehingga masyarakat tidak perlu panik,” jelasnya.

Sebagian besar pasien influenza mengalami gejala ringan hingga sedang dan dapat sembuh dengan sendirinya. Kasus berat umumnya terjadi pada kelompok berisiko tinggi, seperti lansia dan individu dengan penyakit penyerta.

Prima menjelaskan, laporan kematian pada pasien influenza umumnya berkaitan dengan kondisi komorbid yang memperberat penyakit dasar.
Pada kondisi risiko tinggi seperti ini, infeksi dari virus maupun bakteri, dapat menjadi pencetus yang memperburuk komorbid yang sudah tidak stabil.

“Influenza tidak selalu menjadi penyebab kematian utama, tetapi dapat menjadi pencetus yang memperburuk kondisi kesehatan yang sudah tidak stabil, terutama pada pasien lansia dengan komorbid,” ujarnya.

Meski begitu, pihaknya terus menjalankan surveilans influenza di fasilitas kesehatan, rumah sakit dan pintu masuk negara. Termasuk pemeriksaan laboratorium dan analisis genom virus, guna memastikan tidak terjadi perubahan signifikan pada karakter virus.

Ia pun mengimbau publik untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker saat sakit. Terlebih untuk kelompok rentan, seperti orang dengan komorbiditas atau lansia.

Warga pun diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala berat. "Vaksinasi influenza tahunan, khususnya bagi kelompok berisiko, juga dianjurkan sebagai langkah pencegahan," ucapnya.

Tetap Waspada
Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengimbau masyarakat setempat untuk waspada terhadap penularan "super flu". "Soal super flu yang sedang dikhawatirkan. Informasi (penularan) belum masuk ke Indonesia, namun tetap kita harus waspada," kata Rano.

Super flu adalah istilah populer (bukan istilah medis resmi) yang digunakan untuk menyebut flu dengan gejala lebih berat, penyebaran lebih cepat, atau dampak lebih luas dibanding flu biasa.

Kendati belum terdeteksi, kata Rano, upaya mencegah perlu dilakukan, antara lain dengan menggunakan masker saat bepergian. "Penyakit seperti ini kan sifatnya penyakit pendatang," kata dia.

Rano menyampaikan, Pemprov DKI bakal melakukan pemantauan terhadap wisatawan ataupun masyarakat yang pulang berlibur dari luar negeri.

"Nanti kalau saudara-saudara kita pulang liburan dari luar negeri, saat tiba di bandara harus ada pemantauan. Ini memang kegiatan rutin, tapi kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan," kata Rano.

Sementara itu, Praktisi Kesehatan Masyarakat, dr. Ngabila Salama menyebut bahwa super flu bukanlah istilah resmi. "Istilah ini dipakai media atau publik untuk menggambarkan flu yang terasa lebih berat, lebih lama, atau lebih mudah menular dari flu biasa," ujar Ngabila.

Menurut Ngabila, sejumlah langkah praktis yang bisa dilakukan untuk mencegah super flu, yang pertama adalah vaksinasi influenza tahunan. "Sehingga aman, tidak bikin flu dan sangat dianjurkan, terutama untuk keluarga atau pekerja publik," imbuhnya. 

Selanjutnya, kata dia, perlu juga untuk mengenakan masker saat flu atau di kerumunan, lalu rutin mencuci tangan. "Selanjutnya tidur cukup dan kelola stres. Imunitas sangat bergantung pada ini. Terakhir, makan bergizi dan cairan cukup. Jadi, usahakan dalam makanan itu ada protein, sayur dan buah, jangan cuma karbo," kata Ngabila.