periskop.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mencatatkan empat emisi obligasi dan sukuk baru dari tiga emiten korporasi pada pekan awal tahun 2026, yang turut mengerek total nilai nominal outstanding surat utang di pasar modal menembus angka Rp539 triliun.
"Total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI kini mencapai 662 emisi. Nilai nominal outstanding tercatat sebesar Rp539,79 triliun dan US$134,01 juta, yang berasal dari 136 emiten, menunjukkan kedalaman pasar surat utang korporasi nasional yang terus berkembang," kata Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (11/1).
Kautsar menjelaskan penambahan emisi ini terjadi pada perdagangan pekan pertama Januari, khususnya pada Rabu (7/1). Pada hari tersebut, otoritas bursa memproses pencatatan tiga obligasi dan satu sukuk secara serentak.
Pencatatan pertama dilakukan oleh PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT). Emiten perkebunan ini menerbitkan dua instrumen sekaligus, yakni Obligasi Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2025 senilai Rp210 miliar dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2025 senilai Rp290 miliar.
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberikan peringkat idA- (Single A Minus) untuk obligasi dan idA-sy (Single A Minus Syariah) untuk sukuk BWPT tersebut. Dalam penerbitan ini, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) bertindak sebagai wali amanat.
Emiten kedua yang melantai adalah PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Perusahaan properti ini mencatatkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap I Tahun 2025 dengan nilai nominal sebesar Rp351,96 miliar.
Obligasi milik Summarecon ini mendapatkan peringkat idA+ (Single A Plus) dari Pefindo. Untuk pengawasan amanat, perseroan menunjuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Terakhir, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) turut menerbitkan surat utang. Perusahaan migas ini mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2025 dengan nilai nominal mencapai Rp500 miliar.
Sama seperti Summarecon, surat utang ENRG juga diganjar peringkat idA+ oleh Pefindo, dengan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) kembali dipercaya sebagai wali amanat.
Selain instrumen korporasi, BEI juga memperbarui data Surat Berharga Negara (SBN). Hingga saat ini, tercatat ada 190 seri SBN yang diperdagangkan dengan total nilai nominal Rp6.484,29 triliun dan USD352,10 juta.
Sementara itu, untuk instrumen Efek Beragun Aset (EBA), BEI mencatat terdapat enam emisi dengan total nilai mencapai Rp3,99 triliun.
Rangkaian pencatatan ini menegaskan fungsi pasar modal sebagai sumber pendanaan strategis. Kautsar menilai geliat ini mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi di tahun baru.
"Aktivitas tersebut sekaligus mencerminkan optimisme emiten dan investor terhadap stabilitas serta prospek ekonomi nasional di awal 2026," pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar