Harga Minyak Brent Turun ke US$103,06 Senin Pagi
Harga minyak Brent dan WTI kembali melemah Senin pagi, seiring pemulihan ekspor Arab Saudi di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah yang belum reda.

Periskop.id - Harga minyak Brent turun 0,78% menjadi US$103,06 per barel pada Senin (21/9) pagi, seiring investor mencermati pemulihan ekspor minyak Arab Saudi di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah yang masih tinggi. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ikut melemah 0,89% ke level US$99,41 per barel.
Pelemahan tersebut melanjutkan tren penurunan sejak akhir pekan lalu. Pada Jumat (18/9), Brent tercatat turun 0,91%, sementara WTI merosot lebih dalam hingga 1,58%.
Pergerakan harga minyak dipengaruhi perkembangan pasokan dari Arab Saudi, usai serangkaian serangan kelompok Houthi Yaman ke fasilitas energi negara tersebut. Analis JPMorgan menilai arus minyak dari kawasan Timur Tengah masih terjaga meski ada gangguan.
"Arus minyak Timur Tengah tetap mengejutkan kuat meskipun terjadi gangguan pada pipa East-West Arab Saudi," tulis analis JPMorgan dalam catatan riset tertanggal Jumat (18/9).
Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang sejumlah lokasi "sensitif" di Riyadh menggunakan rudal dan drone pada Sabtu (19/9). Serangan itu turut menyasar fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak penting di kawasan Laut Merah.
Sebelumnya, jaringan pipa East-West milik Saudi Aramco juga jadi sasaran serangan. Kondisi ini memaksa perusahaan energi negara tersebut mengalihkan sebagian ekspor minyak melalui Selat Hormuz, setelah sempat menghentikan pengiriman lewat Yanbu.
Perubahan rute pengiriman itu justru membuat ekspor minyak Arab Saudi berangsur pulih. Berdasarkan data sementara perusahaan analitik Kpler, ekspor minyak Saudi mencapai sedikit di atas 4 juta barel per hari (bph) sepanjang September hingga saat ini.
Angka tersebut melonjak signifikan dibandingkan Agustus yang hanya sekitar 2,4 juta bph, level terendah setidaknya sejak 2013.
Menurut JPMorgan, total arus minyak dari kawasan Timur Tengah rata-rata mencapai 17,1 juta bph dalam 10 hari terakhir. Jumlah itu hanya sekitar 6,1 juta bph lebih rendah dibandingkan rata-rata sepanjang 2025.
Data satelit yang dikutip JPMorgan menunjukkan pengiriman minyak Saudi lewat Selat Hormuz rata-rata mencapai 2,9 juta bph dalam enam hari terakhir. Jumlah tersebut melonjak tajam dari rata-rata Agustus yang cuma sekitar 700.000 bph.
Di sisi lain, risiko geopolitik masih membayangi pasokan minyak global. China disebut telah meminta Iran membantu menahan kelompok Houthi, setelah Arab Saudi meminta Beijing turun tangan menyusul serangan terhadap fasilitas minyaknya.
Hubungan Amerika Serikat dan Iran pun masih menemui jalan buntu. Kedua negara kembali saling melontarkan ancaman pada Minggu (20/9), meski Presiden AS Donald Trump mengatakan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang diperkirakan berada di New York pekan ini untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Iran juga telah menyampaikan sejumlah syarat kepada mediator untuk kembali terlibat dalam perundingan mengakhiri perang dengan AS. Pernyataan itu disampaikan Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei dalam wawancara yang dikutip Al Jazeera.
Pasar minyak dengan demikian masih menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Pemulihan ekspor Arab Saudi berpotensi meredakan kekhawatiran pasokan, sementara eskalasi konflik Timur Tengah dan ketidakpastian hubungan AS-Iran tetap jadi risiko yang bisa kembali mengganggu arus minyak global.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Harga Minyak Dunia, Brent Crude, dan WTI dengan mengeklik tautan.





Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.