Analogi Riba Lewat Item Dota 2, Begini Cara Kreator Bandung Ini Ngajarin Ekonomi Islam
Maulana, kreator asal Bandung, pakai item Dota 2 seperti Armlet of Mordiggian buat jelasin konsep riba dalam ekonomi Islam ke anak muda.

Periskop.id - Konten edukasi ekonomi dan ekonomi Islam tidak selalu harus disampaikan lewat teori yang berat. Bagi Maulana, content creator asal Bandung, game justru bisa menjadi jembatan untuk menjelaskan konsep ekonomi kepada audiens yang lebih luas.
Maulana mengaku awalnya tidak langsung terpikir menjadikan game sebagai media edukasi ekonomi. Ia lebih dulu memiliki pengalaman panjang dengan Dota 2, bahkan sampai mengganggu proses studinya saat menempuh S1 dan S2.
“Saya tuh hampir nggak lulus gara-gara main Dota. Karena keseringan. Orang lain skripsian, saya main Dota,” ujar Maulana kepada Periskop.id, Kamis (17/9).
Pengalaman serupa, kata dia, kembali terjadi saat mengambil S2 ekonomi Islam. Maulana mengaku tesisnya hampir tidak selesai karena terlalu sering bermain Dota.
“S2 ekonomi Islam lagi. Saya tuh tesis hampir nggak selesai. Dan mau di-DO gara-gara main Dota,” katanya.
Berawal dari Kesulitan Menjelaskan Ekonomi
Maulana mengatakan, ekonomi bukan topik yang mudah disampaikan kepada masyarakat umum. Menurutnya, bahasa ekonomi kerap terasa berat, apalagi jika digabungkan dengan ekonomi Islam yang memiliki konsep tambahan seperti riba, akad, dan prinsip syariah.
Ia sempat membuat konten ekonomi murni, tetapi jumlah penontonnya tidak terlalu banyak. Selain itu, ia merasa sudah banyak kreator lain yang membahas isu ekonomi dengan pendekatan serupa.
“Ekonomi itu basic-nya susah. Ilmunya agak berat untuk disampaikan kepada masyarakat umum. Itu susah buat diterima karena bahasanya juga memang berat,” ujar Maulana.
Dari situ, Maulana mulai mencari cara agar konsep ekonomi bisa dijelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dicerna. Sebelum menggunakan Dota 2, ia sempat memakai serial SpongeBob SquarePants sebagai media analogi.
Ia mencontohkan karakter Tuan Krab yang kerap diasosiasikan dengan praktik kapitalistik. Dari sana, ia mencoba menjelaskan mengapa SpongeBob dan Squidward tetap bekerja di Krusty Krab meski kondisi kerja mereka digambarkan tidak ideal.
“Awal tuh saya bahas pakai SpongeBob. Misalkan Tuan Krab itu kan kapitalis. Kenapa dia nggak bayar (secara layak) SpongeBob sama Squidward, tapi mereka masih tetap betah kerja di sana,” kata Maulana.
Menurut Maulana, pendekatan itu sempat mendapat respons cukup baik. Namun, ia mengaku kesulitan mencari episode SpongeBob yang benar-benar relevan dengan konsep ekonomi tertentu.
“Buat nyari episode SpongeBob tuh susah yang relate dengan konsep-konsep ekonomi. Jadi saya harus nyari dari hampir 500-an episode, kadang saya lihat satu-satu,” ujarnya.
Dota 2 dan Analogi Riba lewat Armlet
Maulana kemudian menemukan medium lain yang lebih dekat dengan kesehariannya, yakni Dota 2. Salah satu konten pertamanya membahas item Armlet of Mordiggian.
Dalam Dota 2, Armlet of Mordiggian dapat meningkatkan kekuatan hero ketika diaktifkan. Namun, item tersebut juga mengurangi HP atau darah hero secara terus-menerus. Bagi Maulana, mekanisme ini bisa dijadikan analogi untuk menjelaskan riba.
“Kalau diibaratkan itu tuh kayak riba. Memang kita bisa dapat modal instan, bisa dapat uang instan yang gede. Tapi kalau kitanya nggak bisa bayar, kalau regen HP-nya lebih kecil daripada damage yang dikasih Armlet, bakal sekarat,” kata Maulana.
Ia menilai analogi tersebut relevan dengan pengalaman yang pernah ia temui di dunia perbankan. Dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan di bidang ekonomi serta perbankan, Maulana melihat langsung bagaimana nasabah bisa mengalami kesulitan ketika tidak mampu membayar kewajiban finansialnya.
“Itu relate karena saya S1 di ekonomi, S2 ekonomi, saya kerja juga di perbankan. Itu realita saya sehari-hari, gimana lihat nasabah yang nggak bisa bayar, gimana lihat penderitaan mereka,” ujarnya.
Maulana menegaskan, analogi game bukan dimaksudkan untuk menyamakan sepenuhnya kondisi dalam game dengan realitas ekonomi. Namun, game bisa membantu orang awam menangkap gambaran dasar dari sebuah konsep yang abstrak.
Game Jadi Bahasa Baru untuk Ekonomi
Menurut Maulana, banyak game sebenarnya memiliki unsur ekonomi. Ia menyebut sejumlah game seperti Harvest Moon, Stronghold, Age of Empires, Rise of Nations, hingga Victoria sebagai contoh permainan yang dapat digunakan untuk membaca mekanisme ekonomi.
Namun, Maulana memilih Dota 2 karena mekanismenya dianggap lebih menarik untuk dijadikan bahan konten. Selain itu, tidak banyak orang yang secara spontan menghubungkan item atau hero dalam Dota 2 dengan konsep ekonomi dan ekonomi Islam.
“Kalau ngomongin game, pasti game punya karakteristik dan mekaniknya masing-masing. Kalau bahas ekonomi, dari Harvest Moon saja kita sudah belajar,” kata Maulana.
Ia menilai Dota 2 memiliki daya tarik karena analoginya tidak terlalu umum. Justru karena terlihat tidak nyambung pada awalnya, konten tersebut dapat memancing rasa penasaran.
“Saya ngebahas Dota 2 karena mungkin orang lain nggak kepikiran. Kenapa bahas Armlet of Mordiggian, tapi nyambungnya ke ekonomi. Jadi ada bridging, kesannya orang nggak kebayang,” ujarnya.
Menjelaskan Ekonomi Islam dengan Cara Lebih Populer
Bagi Maulana, tantangan utama dalam membahas ekonomi Islam adalah bagaimana menyampaikan konsep yang berat tanpa kehilangan substansi. Ia melihat game sebagai salah satu pintu masuk untuk membuat pembahasan terasa lebih dekat dengan anak muda.
Lewat analogi item, karakter, dan mekanik permainan, konsep seperti riba, risiko, modal, hingga keputusan finansial dapat dijelaskan dengan cara yang lebih ringan.
Pendekatan ini juga memperlihatkan bahwa literasi ekonomi tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas atau buku teori. Dalam konteks audiens digital, game dapat menjadi bahasa populer untuk membicarakan isu yang selama ini dianggap rumit.
Maulana mengatakan, cara menjelaskan ekonomi lewat analogi juga berangkat dari keresahannya melihat pembelajaran di bangku kuliah yang sering kali dipenuhi teori. Menurutnya, teori tetap penting, tetapi perlu dibantu dengan contoh yang dekat dengan kehidupan audiens.
“Kalau misalkan kita lihat kan di bangku perkuliahan, teori-teori aja pusing. Kita juga kadang males. Tapi kalau misalkan kita pakai analogi, satu analogi yang memang masuk akal, yang memang menarik, bisa masuk,” ujarnya.
Ia juga membayangkan pendekatan serupa dapat digunakan jika kelak dirinya mengajar sebagai guru atau dosen. Menurut Maulana, pengajar perlu memahami bahasa generasi yang diajar agar materi yang berat bisa lebih mudah diterima.
“Doain saya jadi guru ataupun dosen. Berarti kan murid saya jauh-jauh umurnya, mungkin 15 atau 20 tahun. Berarti saya harus ikut tren yang ada. Mungkin saya harus ngebahas Roblox atau mungkin saya harus ngebahas Free Fire,” katanya.
Maulana berharap pendekatan tersebut dapat membuat orang lebih mudah memahami ekonomi dan ekonomi Islam tanpa merasa sedang digurui.
“Gimana caranya saya menyampaikan sesuatu dengan baik, tapi mudah dipahami,” pungkasnya.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Ekonomi Syariah dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.