periskop.id – Wakil Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Adian Napitupulu, mengkritik keras wacana Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berencana menerjunkan pasukan kebersihan serupa "Pasukan Oranye" di Parung Panjang, Bogor. Ia menilai langkah untuk mengatasi polusi debu tambang tersebut tidak efektif dan salah sasaran secara geografis.
“Di Jakarta ada pasukan oranye, ada pasukan biru, ada pasukan hijau. Karena ibu kota padat perumahan dan segala macam. Di sana (Parung Panjang) mau sapu apa?” kata Adian Napitupulu dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (28/1).
Adian mengaku sempat berdiskusi langsung dengan Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat. Dalam percakapan itu, ia mempertanyakan relevansi menerjunkan pasukan penyapu jalan di wilayah yang karakteristiknya pedesaan.
Politisi PDI Perjuangan ini membandingkan tata kota Jakarta dengan Parung Panjang. Menurutnya, konsep pasukan kebersihan hanya efektif di wilayah yang didominasi permukiman padat dan jalanan beraspal penuh.
“Di Parung Panjang kiri kanannya sebagian masih sawah. Rumahnya itu cuma ada 5 baris ke depan, tinggal jalan raya,” tegas Adian memberikan gambaran situasi lapangan.
Penerapan metode sapu bersih ala perkotaan dianggap sia-sia. Apalagi jika diterapkan di jalanan berdebu yang dikelilingi tanah merah dan area terbuka hijau.
Volume debu tambang di lokasi tersebut sangat masif dan terus diproduksi setiap detik. Hal ini sulit diatasi hanya dengan tenaga penyapu manual seperti di kota besar.
“Itu efektif di kota-kota, di perumahan-perumahan padat. Nah itu pun saya sampaikan sama Pak Gubernur,” sambungnya.
Adian tidak menampik bahwa model pasukan kebersihan berhasil di daerah lain. Namun, duplikasi kebijakan tanpa melihat konteks geografis dinilai akan membuang anggaran.
“Di Bandung itu efektif. Di Parung Panjang? Tapi biarlah, ini kita saling bertukar muka informasi,” ujar Adian dengan nada skeptis.
Masalah utama di Parung Panjang sejatinya bukan sekadar debu yang menumpuk. Sumber masalahnya adalah lalu lalang ribuan truk tronton yang tak kunjung tertib.
Kendaraan berat pengangkut hasil tambang itu memproduksi debu tanpa henti. Debu beterbangan setiap detik saat truk melintas, bukan sekadar sampah visual yang bisa disapu sekali jalan.
Perwakilan Gerakan Masyarakat Parung Panjang (Gampar) yang hadir dalam rapat turut bersuara. Mereka menyoroti dampak kesehatan serius akibat kondisi ini.
Debu ekstrem tersebut telah memakan korban jiwa secara perlahan. Banyak warga menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menahun akibat paparan debu yang tidak tertangani.
Adian meminta eksekutif tidak membuat kebijakan yang ambigu. Solusi harus menyentuh akar masalah, yakni penegakan aturan jam operasional dan percepatan jalur khusus tambang.
Tinggalkan Komentar
Komentar