Periskop.id - Nelayan di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, meminta pemerintah untuk menyediakan tempat khusus bagi kapal-kapal yang tidak beroperasi atau mangkrak.

Rama, penjaga pangkalan atau parkiran kapal nelayan di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke mengaku, banyak kapal yang tidak lagi beroperasi namun bersandar di antara kapal-kapal nelayan yang aktif, sehingga menyulitkan akses berlayar.

"Jadi banyak kapal yang memang tidak beroperasi, tapi malah di tempat sandaran kapal yang beroperasi," ujar Rama di pelabuhan tersebut, Kamis (29/1). 

Menurut Rama, terdapat setidaknya 300 kapal nelayan nonaktif yang bersandar di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke. "Kalau kapal nelayan jumlahnya sekitar 2.500 kapal, yang tidak beroperasi 300 lebih kapal mah ada, lebih kurang ya," ucapnya.

Menurut Rama, seharusnya ada lokasi atau tempat khusus untuk kapal-kapal yang tidak lagi beroperasi. "Jadi kapal yang beroperasi ada tempatnya, kapal yang mangkrak itu ada tempatnya. Kayak yang di sebelah sini kan banyak kapal mati, itu kan sudah tidak beroperasi bertahun-tahun," ungkapnya. 

Nelayan lainnya, Barda Wijaya (43) mengaku, dirinya terpaksa meminggirkan kapal-kapal nelayan lain saat hendak berlayar untuk menjaring ikan. "Kapal kan jalannya cuma maju sama mundur saja, kalau mau kita atur saja, kita mundurkan kapal. Ada kapal yang menghalangi digeser, lepas dulu tali pengikatnya" ujar Barda.

Pria yang sudah sejak tahun 1998 menjadi nelayan ini tidak mempermasalahkan kondisi parkiran kapal yang semrawut, selama ada komunikasi yang baik antarsesama nelayan. "Kalau saya pribadi, sih, enggak terlalu berpengaruh, yang penting kan ada komunikasi saja. Jadi enak, kan," ucapnya. 

Barda mengungkapkan, permasalahan nelayan sebetulnya terkait cuaca seperti sekarang sedang tidak menentu. Hal itu sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan. "Jadi kayak, misalnya, angin, kayak musim sekarang-sekarang ini, mah itu yang menjadi beban," ungkapnya.

Nelayan asli Pandeglang ini mengatakan, bulan Februari dan bulan Maret seharusnya menjadi momentum yang baik untuk menangkap ikan. Ia pun sangat menantikan momentum tersebut.

"Biasanya bulan ke dua atau ke tiga, Februari sampai Maret itu cuaca bagus, hasil tangkapan biasanya lebih banyak," cetusnya. 

Berharap Cuaca Baik
Asal tahu saja, Barda merupakan nelayan yang biasa menangkap ikan teri dan sejenisnya di perairan Kepulauan Seribu. Jika cuaca sedang baik, ia biasanya bisa dua kali berlayar dalam sehari.

Dia dan sesama nelayan lain di kapalnya itu bisa menghasilkan hingga dua ton ikan teri yang bercampur dengan ikan lainnya, seperti ikan kembung, dalam sekali berlayar jika cuaca baik.

"Tapi kalau cuaca lagi enggak bagus, pernah juga cuma dapat 25 kilogram ikan teri. Kalau cuma dapat 25 kilogram kan jadi enggak dapat apa-apa," lanjutnya.  

Barda menyampaikan, selama dirinya menjadi nelayan, uang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ia mengaku paling besar mendapatkan keuntungan bersih hingga Rp300 ribu per hari.

"Itu kalau lagi tangkapannya banyak, tapi kalau lagi biasa aja ya paling cuma Rp100 ribu," katanya.

Rama sepakat, kondisi Dermaga T Pelabuhan Muara Angke bisa dibilang memang semrawut. "Ya kalau dibilang semrawut ya memang semrawut, bisa dilihat sendiri kondisinya seperti apa," katanya.

Terhadap kondisi ini, Rama berharap agar adanya perhatian dari pemerintah. Rama juga menyoroti terkait keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) subsidi untuk kapal-kapal nelayan yang disebut hanya ada satu titik, yakni di Muara Angke.

"Karena cuma ada satu doang pom subsidi di Muara Angke. Nelayan kalau mau isi bahan bakar harus mengantre lama, kalau pas ngisinya mah cepat," serunya. 

Semantara itu, tokoh masyarakat nelayan Muara Angke James Willing mengatakan, dirinya sudah melaporkan keluhan itu ke pihak terkait. "Ya tapi enggak pernah didengarkan, padahal udah dari bulan-bulan kemarin kami sudah memberitahukan bahwasanya kapal sudah begitu banyak," tuturnya. 

Menurut James, salah satu kekhawatiran yang terjadi ketika banyak kapal-kapal nelayan yang bersandar, yakni tidak terawasi. Di sisi lain, potensi risiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan juga tinggi.

"Yang dikhawatirkan itu mengenai masalah kebakaran ya, kemarin saja dari Muara Baru ada kebakaran. Apalagi kalau menumpuk terlalu banyak," imbuhnya. 

James berharap, pemerintah memperhatikan masalah kapal-kapal yang banyak bersandar di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke, khususnya kapal yang tidak beroperasi (mangkrak) atau nonaktif.

Perluas Dermaga

Menanggapi hal ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyatakan, bakal memperluas Dermaga Kali Asin di Pelabuhan Perikanan Muara Angke, menyusul penumpukan kapal di pelabuhan di Jakarta Utara tersebut.

“Pemerintah DKI Jakarta segera memperluas pelabuhan yang ada di tempat itu dengan menambah kapasitas," kata Pramono.

Diharapkan bisa diperluas dalam waktu dekat ini untuk menambah sampai 500 atau 600 kapal. "Itu sudah maksimum,” serunya. 

Pramono menjelaskan, persoalan utama di Muara Angke berkaitan dengan keterbatasan kolam labuh. Saat ini, daya tampung Pelabuhan Perikanan Muara Angke hanya berkisar 400 hingga 500 kapal.

Namun, kondisi cuaca buruk membuat banyak kapal nelayan tidak melaut dan akhirnya terparkir di pelabuhan. Situasi tersebut diperparah dengan jumlah kapal yang telah mengantongi izin dari pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang mencapai lebih dari 2.500 unit.

Dari jumlah tersebut, sekitar 2.500 kapal terlihat menumpuk dan tidak dapat bergerak, sebagaimana kondisi yang terekam dalam video viral di media sosial (medsos). Untuk itu, Pramono juga meminta agar tidak ada penambahan izin kapal baru karena dikhawatirkan semakin membebani Pelabuhan Muara Angke.

“Dalam kesempatan ini saya menyampaikan dan memohon untuk tidak ada penambahan baru kapal," tuturnya. 

Menurut Pram, jika kemudian izin kapalnya ditambah terus dan lebih dari sekarang yang sudah 2.500, pasti akan menjadi beban bagi Muara Angke.