Periskop.id - Di tengah hiruk pikuk modernitas Jakarta, nilai-nilai luhur masyarakat asli Betawi ternyata masih tersimpan rapi dalam bentuk ungkapan tradisional. 

Salah satu peribahasa yang hingga kini masih sering terdengar dan relevan dengan kehidupan sosial adalah sebuah kalimat penuh makna tentang kekuatan persatuan.

Melansir sumber dari buku berjudul “Ungkapan Tradisional yang Berkaitan dengan Sila-Sila Pancasila Daerah Khusus Ibukota Jakarta”, terdapat satu ungkapan yang sangat ikonik:

“Kalo mau same-same, semut aje bise mindain gunung.”

Secara harfiah, kalimat ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi: “Kalau mau bersama-sama, semut saja bisa memindahkan gunung.”

Makna Persatuan di Balik Ibarat Semut 

Ungkapan ini bukan sekadar susunan kata, melainkan sebuah filosofi mendalam. Semut dikenal sebagai binatang yang sangat kecil, sementara gunung merupakan permukaan tanah yang luar biasa besar dan menjulang tinggi. 

Secara logika, sangat tidak mungkin bagi seekor semut untuk memindahkan gunung. Namun, ungkapan ini menggunakan ibarat tersebut untuk menegaskan bahwa kekuatan kelompok jauh melampaui kemampuan individu.

Arti yang terkandung di dalamnya adalah jika ada persatuan atau kerja sama, bagaimanapun beratnya suatu pekerjaan pasti bisa diselesaikan. 

Masyarakat Betawi meyakini bahwa tenaga yang dikeluarkan secara sendiri-sendiri tidak akan cukup untuk memikul beban yang berat. Sebaliknya, melalui kolaborasi, pekerjaan yang semula terlihat mustahil dapat menjadi ringan.

Fungsi Sosial: Nasehat untuk Solidaritas 

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, ungkapan ini sering digunakan untuk menasihati serta mengingatkan individu atau kelompok yang dirasa kurang memiliki rasa persatuan. 

Seringkali, sebuah pekerjaan gagal dilakukan bukan karena kurangnya sumber daya, melainkan karena ketiadaan kerja sama.

Masyarakat Betawi menggunakan pepatah ini untuk mengajak sesama agar bersatu dalam menghadapi tantangan. 

Contoh konkret yang sering terlihat adalah dalam tradisi mengangkut kayu atau mendirikan rumah secara gotong royong. Tanpa adanya kekompakan, mustahil balok-balok kayu yang besar bisa dipindahkan hanya oleh satu atau dua orang.

Antara Kerja Sama dan Etos Kerja 

Namun, persatuan saja ternyata tidak cukup. Masyarakat Betawi memberikan catatan penting bahwa kerja sama harus dibarengi dengan sifat rajin. 

Meskipun kerja sama telah terjalin dengan baik, jika anggota masyarakatnya bersifat malas, maka pekerjaan berat tersebut tetap tidak akan membuahkan hasil.

Kombinasi antara sifat rajin dan kolaborasi yang solid diharapkan dapat menciptakan harmoni sosial. Dengan adanya kerja sama di antara anggota masyarakat, pekerjaan berat tidak hanya menjadi ringan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk saling menolong anggota masyarakat lainnya yang membutuhkan bantuan.

Nilai ini sejalan dengan sila-sila Pancasila, khususnya prinsip gotong royong yang menjadi akar kuat identitas bangsa Indonesia, terutama dalam kebudayaan masyarakat Jakarta.