periskop.id - Tekanan jual kembali menghampiri Bitcoin pada pembukaan perdagangan Wall Street, Selasa waktu setempat. Aksi jual tersebut mendorong harga BTC turun menembus level psikologis US$90.000. Meski demikian, target harga enam digit alias US$100.000 masih dianggap tetap relevan oleh para pelaku pasar.

Bitcoin (BTC) yang berada di kisaran US$89.037 berhasil menghindari penurunan yang lebih dalam saat pasar Amerika Serikat dibuka. Pergerakan ini terjadi di tengah reaksi pasar terhadap meningkatnya kekhawatiran perang dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Data TradingView menunjukkan pertempuran sengit di area US$90.000 yang kini menjadi level penopang (support) penting bagi harga Bitcoin. Sejalan dengan itu, pasar saham AS dibuka melemah. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun sekitar 1,5% pada saat penulisan.

Berbeda dengan aset berisiko, logam mulia justru melanjutkan tren reli dan mencetak rekor baru. Harga emas untuk pertama kalinya menembus US$4.750 per ons, sementara perak bergerak mendekati level US$96.

Ketegangan geopolitik turut memanas jelang pembukaan pasar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump membagikan sejumlah gambar di media sosial yang menggambarkan Greenland dan Venezuela sebagai bagian dari wilayah AS. Unggahan tersebut menyusul postingan lain yang menampilkan tangkapan layar komunikasi teks antara Trump dan para pemimpin negara Eropa.

“Saya melakukan panggilan telepon yang sangat baik dengan Mark Rutte, Sekretaris Jenderal NATO, terkait Greenland… Saya menyepakati pertemuan berbagai pihak di Davos, Swiss,” tulis Trump dalam salah satu unggahannya di Truth Social.

 

Trader: Target Harga Bitcoin US$100.000 Masih Terbuka

Dengan perhatian pasar beralih ke gelaran World Economic Forum yang berlangsung hingga Jumat, pelaku pasar kripto cenderung bersikap menunggu dan melihat.

“BTC ditolak dari weekly bull market support band-nya,” tulis trader BitBull dalam analisanya di platform X, sambil menunjuk dua indikator moving average di atas harga.

Kejadian ini sempat terjadi dua kali pada kuartal I 2025, sebelum BTC akhirnya berhasil merebut kembali level tersebut dan mencetak rekor tertinggi baru (ATH). Selama BTC mampu bertahan di atas level US$88.500, tren naik masih tetap utuh.

Sebelumnya, Cointelegraph melaporkan sejumlah level harga kunci Bitcoin yang kini menjadi area uji ulang sebagai support. Salah satunya adalah peringatan dari trader senior Peter Brandt, yang menilai penolakan harga di level US$98.000 berpotensi menyeret BTC turun hingga US$60.000 atau bahkan lebih rendah. Brandt kemudian menambahkan bahwa pergerakan BTC/USD saat ini membentuk struktur diagonal yang tidak ideal untuk aktivitas trading.

Sementara itu, trader il Capo of Crypto yang dikenal dengan pandangan bearish kali ini menunjukkan sikap yang lebih optimistis, meski tetap berhati-hati. Ia menilai peluang Bitcoin untuk kembali ke level US$100.000 masih terbuka dalam kerangka waktu dua hari.

“Zona support ada di sini. Jika level ini bertahan, maka target US$100.000 seharusnya menjadi tujuan berikutnya… Ini bisa menjadi higher low yang penting bagi keseluruhan pasar kripto, sebelum berlanjut ke fase kenaikan yang kuat," ujar dia.