periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan tekanan pada Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang hampir menyentuh di level Rp17 ribu tidak berkaitan dengan kabar adanya usulan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Bank Indonesia (BI).
Pada penutupan perdagangan Senin (19/1), nilai tukar rupiah kembali melemah ditutup turun 68 poin ke level Rp16.955 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp16.896. Sebelumnya, rupiah sempat tertekan hingga melemah 75 poin.
Purbaya menjelaskan ditengah tekanan Rupiah terhadap dolar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terpantau menguat di level all time high 9.133 atau nauk sekitar 0,64%. Ia menilai hal ini dikarenakan adanya aliran modal asing yang masuk ke pasar domestik.
"Kalau indeks naik ke situ, pasti ada flow asing masuk ke situ juga, kan Nggak mungkin termasuk sendiri yang bisa mendorong itu ke level yang seperti itu. Jadi tinggal tunggu waktu aja Rupiahnya menguat juga Karena suplai dolar akan bertambah," kata Purbaya kepada media, di Komplek DPR RI, Jakarta, ditulis Selasa (20/1).
Bendahara negara itu menilai kekhawatiran sebagian pihak terkait potensi hilangnya independensi Bank Indonesia apabila Thomas Djiwandono bergabung merupakan spekulasi yang berlebihan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak akan terjadi dan tidak akan mengganggu kredibilitas kebijakan moneter.
"Jadi ini mungkin sebagian spekulasi Ketika Thomas akan kesana Wow, orang spekulasi dia Independensinya hilang. Saya pikir nggak akan begitu Nanti kalau begitu insap juga langsung menguat lagi Rupiah," terang dia.
Purbaya juga meyakini bahwa seiring terjaganya fondasi ekonomi nasional dan percepatan pertumbuhan ekonomi ke depan, kepercayaan pasar akan tetap kuat, bahkan berpotensi mendorong penguatan nilai tukar rupiah.
"Karena fondasi ekonominya kita akan jaga, supaya semakin membaik ke depan pertumbuhan ekonomi akan semakin cepat semakin cepat, semakin cepat," tutup dia.
Tinggalkan Komentar
Komentar