periskop.id - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufiqurrahman menilai stabilitas nilai tukar rupiah tidak dapat hanya bergantung pada instrumen moneter. Menurutnya, kredibilitas fiskal, kualitas belanja negara, serta keberlanjutan pembiayaan menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan makroekonomi dan memperkuat rupiah secara struktural.

Rizal menjelaskan ruang manuver fiskal Indonesia saat ini semakin terbatas. Defisit APBN yang relatif tinggi, beban bunga utang yang terus meningkat, serta keseimbangan primer yang semakin melebar mencerminkan meningkatnya rigiditas fiskal. Kondisi ini menurutnya membuat konsolidasi fiskal menjadi rapuh dan lebih sensitif terhadap guncangan eksternal.

“Belanja wajib, termasuk belanja bunga dan kewajiban utang, semakin mendominasi struktur belanja negara. Ini mengurangi fleksibilitas APBN dalam menjalankan fungsi stabilisasi dan memperkuat struktur ekonomi,” ujar Rizal dalam agenda diskusi publik bertajuk Depresiasi Rupiah dan Dilema Independensi secara online, Selasa (27/1).

Ia menambahkan, jika fiskal terus meningkat maka kemampuan APBN untuk merespons tekanan global akan semakin terbatas. Dampaknya tidak hanya pada fiskal, tetapi juga pada kepercayaan pasar dan stabilitas makro secara keseluruhan.

Dari sisi pengelolaan utang Rizal mengakui terdapat perbaikan struktural. Porsi utang valuta asing terhadap total utang pemerintah menunjukkan tren penurunan, begitu pula dengan kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini menunjukkan adanya upaya mitigasi risiko nilai tukar yang lebih baik.

Namun demikian, tekanan pembiayaan dinilai masih persisten. Kebutuhan pembiayaan bruto kembali meningkat, sementara rata-rata tenor utang cenderung mandek dan relatif stagnan. 

Menurut Rizal, kondisi ini menandakan risiko pembiayaan belum sepenuhnya terkelola, meskipun struktur utang terlihat lebih stabil.

“Struktur utang memang terlihat lebih terkendali, tetapi tetap sensitif terhadap perubahan suku bunga dan sentimen pasar,” sambungnya.

Peningkatan persepsi risiko juga tercermin dari indikator pasar keuangan. Rizal mencatat adanya pelebaran Credit Default Swap (CDS) Indonesia, pergerakan yield SBN tenor panjang yang cenderung naik, serta arus keluar modal asing dari pasar SBN. Ia menilai tekanan pasar tersebut lebih banyak didorong oleh ekspektasi dan sentimen ke depan bukan semata-mata oleh kinerja fiskal historis.

"Persepsi risiko yang meningkat pada akhirnya akan menambah tekanan terhadap fiskal dan nilai tukar rupiah," terangnya.

Dari sisi eksternal, Rizal menyoroti melemahnya ketahanan ekonomi Indonesia. Penurunan cadangan devisa, kembalinya defisit transaksi berjalan, serta tekanan terhadap rupiah menunjukkan bantalan eksternal Indonesia tidak sekuat beberapa tahun sebelumnya dan semakin sensitif terhadap perubahan global.

Tekanan eksternal diperkirakan akan tetap tinggi seiring suku bunga global yang bertahan di level tinggi, volatilitas pasar keuangan internasional yang belum mereda, serta meningkatnya ketegangan geopolitik. Penurunan harga komoditas utama termasuk batu bara juga berpotensi menekan kinerja ekspor dan penerimaan devisa.

Menurut Rizal, kombinasi faktor tersebut meningkatkan risiko transmisi guncangan global ke sektor fiskal dan nilai tukar. Defisit dan kebutuhan pembiayaan yang tinggi dapat meningkatkan persepsi risiko fiskal, menekan pasar SBN, mendorong capital outflow, dan pada akhirnya meningkatkan permintaan valuta asing di pasar domestik.

“Penguatan rupiah secara berkelanjutan membutuhkan fiskal yang kredibel, kualitas belanja yang lebih baik, serta strategi pembiayaan yang berkelanjutan,” pungkas Rizal.