periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat (6/2), seiring penguatan indeks dolar AS di tengah meningkatnya tensi geopolitik Timur Tengah serta sentimen campuran dari data ekonomi Amerika Serikat. Tekanan eksternal tersebut diperparah oleh sentimen domestik usai lembaga pemeringkat Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah kembali kehilangan momentum meski sempat bergerak lebih lemah di awal perdagangan.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 34 point, sebelumnya sempat melemah 55 point di level Rp16.876 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.842,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (6/2).

Dari sisi eksternal, pelaku pasar mencermati pertemuan pejabat Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Oman pada Jumat sore. Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah, setelah Washington mengerahkan sedikitnya dua armada angkatan laut ke kawasan tersebut. Pasar berharap dialog antara Teheran dan Washington dapat meredakan ketegangan dan mencegah konflik berskala lebih luas.

Namun, ketidakpastian masih tinggi lantaran kedua negara berbeda pandangan mengenai ruang lingkup pembahasan. Iran menolak permintaan AS untuk membahas persenjataan rudal dan menegaskan diskusi hanya terbatas pada isu nuklir. Posisi Iran sebagai produsen minyak utama yang berada di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran vital minyak mentah dunia, menambah kekhawatiran pasar.

Selain faktor geopolitik, pasar juga merespons data tenaga kerja AS. Data Challenger menunjukkan pemutusan hubungan kerja pada Januari mencatat laju tercepat sejak resesi besar 2009. Klaim pengangguran mingguan turut meningkat melebihi ekspektasi, sementara data lowongan kerja Desember berada di bawah perkiraan.

Mendinginnya pasar tenaga kerja memberi ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga. Namun arah kebijakan moneter AS masih dibayangi ketidakpastian, terutama terkait pandangan pasar terhadap Warsh yang dinilai kurang dovish untuk memimpin bank sentral AS.

Dari dalam negeri, sentimen rupiah tertekan setelah Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat utang tetap dipertahankan di level Baa2 atau investment grade. Penurunan outlook tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan, kekhawatiran tata kelola, serta potensi dampaknya terhadap kepercayaan investor.

Moody’s menilai, jika kondisi ini berlanjut, kredibilitas kebijakan yang telah lama dibangun berisiko tergerus. Lembaga tersebut juga menyoroti tantangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memulihkan kepercayaan pasar dan mencegah aksi jual besar-besaran aset Indonesia.

Tekanan domestik lainnya datang dari penurunan posisi cadangan devisa Indonesia pada Januari 2026 menjadi US$154,6 miliar, dari sebelumnya US$156,5 miliar. Penurunan ini dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan cadangan devisa tersebut masih memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. BI juga optimistis aliran modal asing tetap terjaga seiring persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional dan imbal hasil investasi yang kompetitif. Ke depan, Ibrahim memperkirakan volatilitas rupiah masih akan tinggi.

“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di kisaran Rp16.870-Rp16.920. Sementara range pergerakan rupiah untuk sepekan ke depan berada di rentang Rp16.750-Rp17.200,” pungkasnya.