periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (4/2), tertekan oleh penguatan indeks dolar AS yang dipicu memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta data manufaktur AS yang melampaui ekspektasi. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mencatat rupiah kehilangan tenaga setelah sempat menguat di hari sebelumnya.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 23 point sebelumnya sempat melemah 25 point di level Rp16.776 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.754,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (4/2).
Dari sisi eksternal, sentimen negatif datang dari insiden militer di Laut Arab, di mana pasukan AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln. Situasi semakin rumit setelah Iran menuntut pemindahan lokasi perundingan nuklir dari Turki ke Oman serta meminta pembatasan ruang lingkup pembicaraan.
Selain geopolitik, keperkasaan dolar didorong oleh data ekonomi domestik AS yang solid. PMI Manufaktur ISM melonjak ke level 52,6 pada Januari (dari 47,9 di Desember), jauh di atas ekspektasi pasar.
"Data manufaktur yang kuat memperkuat pandangan bahwa The Fed mampu bersabar sebelum melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter. Saat ini pasar memperkirakan probabilitas penurunan suku bunga pada Juni mendatang berada di level 66%," tambah Ibrahim. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis data ketenagakerjaan ADP malam ini.
Dari dalam negeri, rupiah dibayangi oleh catatan kritis Bank Dunia terhadap struktur ekonomi Indonesia. Meski kinerja ekonomi stabil, Bank Dunia menilai Indonesia sulit keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) jika tidak segera melakukan reformasi struktural yang mendalam.
Bank Dunia menyoroti kurang dinamisnya ekosistem perusahaan besar di Indonesia dan produktivitas yang tidak meningkat seiring skala usaha. Dibutuhkan peralihan ke mesin pertumbuhan endogen yang fokus pada inovasi dan perluasan pasar internasional, serta penegakan kesetaraan kesempatan berusaha (level playing field) yang lebih konsisten.
Ibrahim memperkirakan sentimen global masih akan mendominasi pergerakan mata uang garuda di sisa pekan ini.
“Untuk perdagangan besok, Kamis (5/2), mata uang rupiah fluktuatif namun diperkirakan akan ditutup melemah di rentang Rp16.770-Rp16.800,” pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar