periskop.id - Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Selasa (3/2), dipengaruhi pelemahan dolar AS dan data manufaktur domestik yang positif. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa rupiah ditutup menguat pada akhir perdagangan sore ini.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 44 point sebelumnya sempat menguat 45 point di level Rp16.754 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.798,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (3/2).
Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS sempat menekan rupiah, seiring dinamika geopolitik dan kebijakan moneter global. Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran serius berbicara terkait lanjutan pembicaraan nuklir pada Jumat di Turki, sementara Trump juga menegaskan potensi risiko jika kesepakatan tidak tercapai.
Di sisi lain, Trump menominasikan mantan gubernur Fed, Kevin Warsh, sebagai calon Ketua The Fed berikutnya. Meski keputusan ini mengurangi ketidakpastian pasar, ekspektasi kebijakan moneter tetap relatif ketat dalam beberapa tahun ke depan.
Dari dalam negeri, sentimen rupiah didukung oleh data manufaktur Indonesia. S&P Global Market Intelligence mencatat PMI Manufaktur Januari 2026 di level 52,6, naik dari 51,2 pada Desember 2025. Kenaikan ini menunjukkan ekspansi produksi dan permintaan baru yang berkelanjutan, terutama dari pasar domestik.
Perusahaan juga meningkatkan pembelian input dan inventaris sebagai persiapan kenaikan produksi. Ibrahim menilai kombinasi sentimen eksternal dan domestik masih akan memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
“Untuk perdagangan besok, Rabu (4/2), mata uang rupiah fluktuatif namun diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.750–Rp16.780,” pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar