Periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (21/7). Penguatan ini didorong ekspektasi pasar terhadap kenaikan BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia periode Juli 2026.
Rupiah tercatat naik 0,26% atau 46,1 poin ke level Rp17.891 per dolar AS. Meski begitu, level tersebut masih mencerminkan pelemahan 10,05% dibanding periode yang sama setahun sebelumnya, menurut data yang dihimpun Trading Economics.
"Pasar secara luas memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 6,0%," mengutip ulasanTrading Economics, Selasa (21/7).
Proyeksi kenaikan ini melanjutkan tren pengetatan yang sudah dimulai sebulan sebelumnya. Pada RDG Juni 2026, bank sentral menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 5,75%.
Langkah pengetatan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mengendalikan inflasi. Laju inflasi Juni lalu sempat menyentuh batas atas target Bank Indonesia sebesar 1,5% hingga 3,5%.
Kenaikan BI Rate turut diharapkan mampu menstabilkan harga pangan yang belakangan bergejolak. Namun, upaya pengendalian inflasi ini dihadapkan pada tantangan baru berupa lonjakan harga minyak dunia.
Lonjakan harga minyak tersebut merupakan imbas memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang turut membebani ruang gerak kebijakan moneter dalam negeri.
Pergerakan rupiah turut dipengaruhi kondisi neraca perdagangan. Trading Economics mencatat, defisit perdagangan Mei 2026 mencapai US$1,61 miliar, menandai defisit pertama dalam enam tahun terakhir.
Di tengah tensi geopolitik itu, dolar AS kembali dilirik pelaku pasar sebagai aset lindung nilai. Indeks dolar AS (DXY) bertahan di level 100,90, meski pada penutupan Selasa (21/7) sempat melemah tipis 0,05%.
"Secara global, indeks dolar naik lebih lanjut karena meningkatnya ketegangan AS-Iran menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi dan memperkuat pandangan tentang pengetatan kebijakan," tulis Trading Economics dalam laporan yang sama.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar