Suahasil Ungkap Realisasi Subsidi dan Kompensasi Capai Rp331,4 Triliun
Realisasi subsidi dan kompensasi hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp331,4 triliun atau 74,2% dari pagu APBN.

Periskop.id - Menteri Keuangan Suahasil Nazara membeberkan realisasi subsidi dan kompensasi per 31 Agustus 2026 mencapai Rp331,4 triliun atau 74,2% dari pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut dia, anggaran subsidi dan kompensasi tersebut menjadi salah satu instrumen APBN dalam menjaga daya beli masyarakat, terutama di tengah volatilitas harga energi global.
"Realisasi subsidi dan kompensasi sudah kita bayarkan Rp331,4 triliun, dan pembayaran kompensasi itu sekarang dilakukan bulanan, dan pembayaran subsidi juga dilakukan bulanan kepada PLN dan Pertamina," ujar Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, dikutip Sabtu (19/9).
Untuk volume BBM, realisasi pada 2026 mencapai sekitar 11.578,7 ribu kiloliter, dibandingkan 10.639,8 ribu kiloliter pada 2025. Artinya, volumenya tumbuh 8,8%.
Kemudian, volume LPG 3 kilogram mencapai sekitar 5.044,5 juta kilogram, dibandingkan 4.917,8 juta kilogram pada 2025. Pertumbuhannya mencapai 2,6%.
Selanjutnya, jumlah pelanggan listrik yang mendapatkan subsidi mencapai sekitar 43,3 juta pelanggan, dibandingkan 42,4 juta pelanggan pada 2025. Jumlah tersebut tumbuh 2,1%.
Untuk volume pupuk bersubsidi, realisasinya mencapai 6,1 juta ton, dibandingkan 4,9 juta ton pada tahun sebelumnya. Artinya, terjadi pertumbuhan cukup tinggi, yaitu 24,5%.
Sementara itu, jumlah debitur Kredit Usaha Rakyat atau KUR mencapai 3,3 juta debitur, dibandingkan 3,1 juta debitur pada 2025. Jumlah tersebut tumbuh 6,5%.
"Ini yang saya maksudkan ekonominya berjalan terus, salah satunya didukung oleh barang-barang yang harganya diatur oleh pemerintah. Memang ada subsidi, kompensasi yang kita bayarkan, dan tahun ini pun kita bayarkan lebih tinggi dibandingkan pembayaran subsidi dan kompensasi tahun 2025," paparnya.
Kendati demikian, realisasi subsidi dan kompensasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, adanya fluktuasi ICP atau Indonesian Crude Price, nilai tukar rupiah, serta peningkatan volume BBM, LPG, dan listrik yang mendapatkan subsidi.
Kedua, volatilitas harga minyak akibat dinamika geopolitik global dapat meningkatkan realisasi subsidi energi. Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh situasi geopolitik regional, termasuk ketika Indonesia menghadapi kondisi tersebut pada tahun 2022 ketika terjadi krisis Rusia-Ukraina.
Ketiga, untuk subsidi nonenergi, realisasinya terutama dipengaruhi oleh meningkatnya pembayaran subsidi pupuk. Kemudian, dari sisi barang dan layanan yang dinikmati masyarakat dengan harga bersubsidi, terdapat beberapa komoditas yang mengalami peningkatan volume dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Suahasil Nazara, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), subsidi, dan kompensasi dengan mengeklik tautan.






Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.