banner-sheroes-yoga
Moneter

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Pengamat Soroti Hal Ini

Rupiah melemah 0,33% ke Rp17.817 per dolar AS akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, dan penguatan indeks dolar AS.

dolar - rupiah
Petugas penukaran mata uang asing menghitung uang pecahan 100 dolar Amerika dan uang pecahan 100 ribu rupiah di Dolarasia Tebet, Jakarta, Senin, (27/4/2026). Periskop/Arief Rachman.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pada perdagangan hari ini, Senin (21/9). Melansir dari Bloomberg pada pukul 11.11 WIB berada pada level Rp17.817 atau melemah 59 poin atau 0,33%.

Pengamat ekonomi dan pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan tersebut diakibatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia sehingga memicu penguatan indeks dolar AS.

"Harga minyak mentah mengalami kenaikan, terutama dalam Brent crude oil yang sudah di atas 101. Kemudian WTI, yaitu jadi antara 96-97, mengindikasikan bahwa harga minyak naik, kemudian indeks dolar pun juga terjadi gap up," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (21/9).

Di Timur Tengah, Ibrahim menyoroti konflik antara kelompok Houthi Yaman dan Arab Saudi. Hal tersebut menjadi salah satu pemicu pelemahan Rupiah.

"Arab Saudi meminta bantuan terhadap Amerika, Amerika pun juga tidak mau membantu Arab Saudi, karena ada perjanjian antara Houthi Yaman dengan Amerika yang tidak akan saling serang.

Itu yang pertama.

Tak hanya itu, potensi penutupan Selat Hormuz juga menjadi salah satu faktor penggerak eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, hingga saat ini belum ada kesepakatan antara Amerika dan Iran tentang perundingan yang diprakarsai oleh Pakistan.

"Ini secara geopolitik. Secara geopolitik mempengaruhi laju penguatan indeks dolar, harga minyak mentah, sehingga melemahkan mata uang Rupiah," terang Ibrahim.

Sedangkan dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti arah kebijakan Bank Indonesia di bawah kepemimpinan Dody Damayanti. Ia memprediksi bahwa Bank Sentral akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) minggu ini.

"Tetapi saya melihat dalam kondisi saat ini, kondisi Bank Sentral Amerika sudah menaikkan suku bunga 25 basis point, ada kemungkinan besar Bank Indonesia dalam pertemuan di minggu ini, di hari Rabu, kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga 25 basis point," ungkapnya.

Selain itu, kata Ibrahim, pasar saat ini tengah menantikan kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait produk yang akan diperdagangkan di Bursa Komoditas serta Bursa Mineral dan Komoditas yang dibentuk pemerintah untuk mengendalikan harga.

Peralihan kewenangan pengawasan perdagangan komoditas dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) ke OJK mulai 1 Januari tahun depan juga menjadi perhatian pelaku pasar. Salah satu yang dinanti adalah apakah harga komoditas Indonesia nantinya dapat menjadi harga referensi bagi pasar dunia.

"Nah, ini yang ternyata besar bagi para pengamat termasuk saya sendiri karena tidak mudah referensi harga itu terbentuk dalam jangka waktu 1 tahun. Bisa menunggu waktu 10-15 tahun ke depan. Nah, ini yang mempengaruhi pergerakan mata uang Rupiah sehingga melemah dalam perdagangan di pagi ini," tutup Ibrahim.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Rupiah, dan dolar AS dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.