banner-sheroes-yoga
Moneter

Rupiah Berpotensi Tertekan Pekan Depan, Ini Pemicunya

Rupiah diproyeksi masih tertekan pekan depan usai melemah tujuh hari beruntun, dengan sentimen APBN, El Nino, dan suku bunga AS jadi penentu arah.

Rupiah Berpotensi Tertekan Pekan Depan, Ini Pemicunya
Petugas penukaran mata uang asing menghitung uang pecahan 100 dolar Amerika dan uang pecahan 100 ribu rupiah di Dolarasia Tebet, Jakarta, Senin, (27/4/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan depan. Investor bakal mencermati sejumlah sentimen, mulai dari kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), risiko El Nino, hingga arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebutkan, kondisi fiskal pemerintah jadi salah satu perhatian pasar pekan depan. Ia menilai defisit APBN yang tercatat hingga akhir Agustus 2026 masih berada dalam batas terkendali.

"Angka defisit ini sebelumnya sudah disampaikan Purbaya Yudhi Sadewa minggu lalu. Secara keseluruhan tahun, pemerintah memperkirakan defisit APBN hingga akhir tahun 2026 akan berada di sekitar 2,85% dari PDB, sedikit di atas target awal APBN yang sebesar 2,68% PDB," kata Ibrahim, Jumat (18/9).

Data menunjukkan, defisit APBN hingga akhir Agustus 2026 tercatat Rp240,1 triliun atau setara 0,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka itu berasal dari pendapatan negara Rp2.055,6 triliun, atau baru 65,2% dari target tahun ini, sementara belanja negara sudah mencapai Rp2.295,7 triliun.

Meski defisit, keseimbangan primer pemerintah masih tercatat positif sebesar Rp154 triliun. Kondisi ini dinilai Ibrahim sebagai sinyal bahwa fiskal pemerintah masih relatif kuat di tengah tekanan belanja.

Dari sisi pasar spot, rupiah ditutup melemah 0,03% ke level Rp17.758 per US$ pada Jumat (18/9/2026), mengutip data Bloomberg. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah menjadi tujuh sesi perdagangan berturut-turut.

Secara mingguan, rupiah tercatat melemah 0,83% dibandingkan posisi Jumat (11/9/2026) yang berada di level Rp17.611 per US$. Sementara berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di Rp17.745 per US$, melemah 0,04% dari hari sebelumnya di Rp17.753 per US$.

Jika dibandingkan posisi JISDOR Jumat pekan lalu di Rp17.611 per US$, pelemahan mingguan rupiah versi BI tercatat 0,76%.

Selain sentimen fiskal, cuaca juga jadi perhatian pasar domestik. Fenomena El Nino pada 2026 berpotensi menekan sejumlah sektor ekonomi, mulai dari pertanian, ketersediaan air, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan akibat kondisi panas serta kering di berbagai wilayah Indonesia.

Perkembangan itu berpotensi menambah sentimen negatif yang memengaruhi persepsi pasar terhadap perekonomian domestik, di luar faktor global yang juga sedang membayangi.

Dari eksternal, Ibrahim menyoroti kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%. Pernyataan Kevin Warsh turut jadi sorotan karena dinilai bernada hawkish, dengan alasan inflasi AS masih terlalu tinggi sehingga kenaikan suku bunga dianggap perlu untuk mengurangi akomodasi kebijakan moneter.

Pandangan Warsh tersebut membuka ruang bagi kemungkinan pengetatan kebijakan moneter AS lebih lanjut, sebuah sinyal yang menurut Ibrahim perlu terus diwaspadai pelaku pasar.

Kombinasi sentimen domestik dan eksternal itu diperkirakan bakal membawa rupiah bergerak di kisaran Rp17.650-Rp18.000 per US$ pada perdagangan pekan depan.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Rupiah, dan dolar AS dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.