Iklan
Moneter

Setelah 1,5 Tahun Online, BI Kembali Gelar RDG Tatap Muka Hari Ini

Bank Indonesia kembali menggelar RDG secara tatap muka setelah hasil rapat bulanan disampaikan secara daring sejak April 2025.

Setelah 1,5 Tahun Online, BI Kembali Gelar RDG Tatap Muka Hari Ini
Konferensi pers hasil RDG bulan September 2026, Rabu (23/9/2026). Foto: periskop.id/tangkapan layar Youtube Bank Indonesia
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Bank Indonesia akhirnya mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) perdana secara tatap muka atau offline sejak dilaksanakan online sejak April 2025 atau selama 1,5 tahun.

"Akhirnya kita jumpa lagi setelah 1,5 tahun RDG dilaksanakan online," ucap Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti saat masuk ke ruang konferensi pers RDG, Jakarta, Rabu (23/9).

Sebelumnya, Destry mengungkapkan pihaknya berencana kembali menggelar hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan secara tatap muka. Sebelumnya, BI menyampaikan hasil RDG secara daring sejak April 2025.

Destry mengatakan rencana tersebut dilakukan agar penyampaian hasil RDG dapat berlangsung lebih interaktif. Kendati demikian, BI masih akan menentukan waktu pelaksanaan secara tatap muka, termasuk memastikan kesiapan tempat yang akan digunakan.

"Terkait dengan untuk yang RDG nanti, RDG bulanan, kita memang berencana nanti kita akan kembali ke normal (offline), tapi kapannya tentu kita akan lihat nanti," ujar Destry saat konferensi pers, Jakarta, dikutip Kamis (3/9).

Di sisi lain, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan BI bakal mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026. Hasil kebijakan tersebut dijadwalkan diumumkan hari ini.

Lembaga tersebut menilai keputusan menahan suku bunga paling masuk akal, mengingat inflasi yang naik dan neraca perdagangan yang kian menyempit belakangan ini.

"Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75 persen pada September 2026," tulis riset LPEM FEB UI dalam publikasi resminya, Rabu (23/9).

Kenaikan inflasi jadi salah satu alasan utama di balik proyeksi tersebut. LPEM FEB UI mencatat, lonjakan itu terutama dipicu oleh komponen harga bergejolak.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Destry Damayanti, Bank Indonesia (BI), dan RDG BI dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.