EBITDA SCG Naik 35%, Penjualan di Indonesia Tumbuh 39% di Kuartal II 2026
SCG mencatat Adjusted Cash EBITDA semester I 2026 naik 35%. Indonesia menjadi pasar ASEAN dengan pertumbuhan penjualan tertinggi pada kuartal II, mencapai 39%

Periskop.id - SCG mencatat perbaikan kinerja pada semester I 2026 di tengah tekanan geopolitik dan volatilitas biaya energi. Adjusted Cash EBITDA perusahaan tumbuh 35% secara tahunan, sementara Indonesia menjadi pasar SCG di ASEAN dengan pertumbuhan penjualan tertinggi pada kuartal II 2026.
Berdasarkan laporan perusahaan, penjualan SCG di Indonesia sepanjang kuartal II mencapai sekitar Rp6,51 triliun atau US$360 juta, tumbuh 39% dalam mata uang lokal dibanding periode yang sama tahun lalu. Peningkatan itu terutama ditopang penjualan produk petrokimia SCG Chemicals (SCGC) dari kompleks Long Son Petrochemicals (LSP) di Vietnam ke pasar Indonesia.
Secara konsolidasi, dokumen resmi SCG yang disampaikan kepada Bursa Efek Thailand menunjukkan Adjusted Cash EBITDA semester I 2026 mencapai 42,913 miliar baht, meningkat 35% dibanding semester I 2025. Pendapatan penjualan mencapai 259,57 miliar baht atau naik 4%. Sedangkan laba periode berjalan tercatat 17,758 miliar baht, turun 4%.
Pada kuartal II saja, pendapatan penjualan mencapai 136,243 miliar baht, sementara Adjusted Cash EBITDA mencapai 27,984 miliar baht atau melonjak 47% secara tahunan. SCG menyebut perbaikan tersebut ditopang margin petrokimia yang lebih tinggi, efisiensi bisnis semen dan material bangunan, serta pemulihan bisnis kemasan di Indonesia.
President and CEO SCG Thammasak Sethaudom mengatakan, strategi jangka pendek dan menengah perusahaan mulai menunjukkan hasil di berbagai lini bisnis. Di tengah dinamika global yang penuh tantangan, lanjutnya, SCG terus memperkuat fondasi bisnis, meningkatkan ketangkasan operasional, dan menjaga daya saing perusahaan.
Menurutnya, keberhasilan penerapan strategi jangka pendek dan menengah turut mendorong perbaikan kinerja di seluruh unit bisnis. Bisnis pengemasan juga menunjukkan perbaikan kinerja, terutama di Indonesia, yang kembali mencatatkan laba. “Pemulihan ini didorong oleh integrasi bisnis yang lebih kuat, peningkatan efisiensi operasional, pengelolaan biaya yang efektif, serta peningkatan volume penjualan kemasan domestik,” tuturnya.
Bisnis Kemasan Indonesia Kembali Cetak Laba
Pemulihan operasi Indonesia paling terlihat pada bisnis SCG Packaging (SCGP). Perusahaan mengonfirmasi operasi kemasan di Indonesia kembali mencatat laba pada kuartal II 2026 setelah menjalankan efisiensi biaya, mengoptimalkan bauran energi, menaikkan volume penjualan domestik, dan meningkatkan integrasi bisnis.
SCGP mencatat laba semester I sebesar 3,87 miliar baht dengan Adjusted Cash EBITDA sekitar 10,47 miliar baht. Dalam publikasi terpisah pada September, SCGP menyatakan bisnis kertas kemasan Indonesia mempertahankan pangsa pasar domestik sekitar 33%, sementara sekitar 60% kebutuhan recovered paper telah dipenuhi dari sumber lokal.
SCG juga memperluas produk dan fasilitasnya di Indonesia. Melalui Jayamix by SCG, perusahaan memperkenalkan Jayamix Advanced Waterproof Concrete dan membangun batching plant baru di Marunda, Jakarta Utara untuk memperkuat pasokan beton siap pakai ke Jakarta Utara dan Bekasi.
Di sisi keberlanjutan, sertifikasi Green Label untuk lima kategori beton siap pakai Jayamix diperbarui dengan skor naik dari 91% menjadi 92,5%. Sistem pelacakan armada truck mixer juga diperbarui agar lokasi pengiriman dapat dipantau secara real-time.
Pada sektor logistik, SCG Barito Logistics bekerja sama dengan PT Krakatau Bandar Samudera untuk layanan penyimpanan ISO tank, kontainer kering, serta lift-on/lift-off di Krakatau International Port.
SCG Lepas 14,86% Saham Chandra Asri
Langkah efisiensi keuangan juga terlihat melalui divestasi saham PT Chandra Asri Pacific Tbk oleh SCGC. SCG melepas sekitar 14,86% saham Chandra Asri dengan hasil transaksi sekitar 24,9 miliar baht pada awal Juni 2026. Setelah transaksi tersebut, SCGC masih menguasai sekitar 15,71% saham Chandra Asri. Dana hasil penjualan diprioritaskan untuk mengurangi utang sekaligus membiayai proyek peningkatan penggunaan etana di LSP Vietnam.
Strategi itu ikut memperbaiki struktur utang SCG. Utang bersih perusahaan pada akhir kuartal II turun menjadi 238,27 miliar baht, berkurang hampir 42 miliar baht dibanding akhir 2025. Rasio net debt to EBITDA ikut turun dari 5,5 kali menjadi 3,7 kali.
Proyek penggunaan bahan baku etana di LSP sendiri bernilai sekitar US$700 juta dan ditargetkan beroperasi pada akhir 2027. SCGC memperkirakan penggunaan etana dapat memangkas biaya bahan baku lebih dari 30% dibanding nafta, sekaligus memberi fleksibilitas lebih besar ketika harga energi bergejolak.
Strategi Hindari Jalur Hormuz
Salah satu tantangan besar sepanjang semester pertama adalah gangguan pasokan energi akibat konflik Timur Tengah. Dalam laporan keuangannya, SCG menyebut kekurangan bahan baku di Asia sempat memaksa sejumlah fasilitas petrokimia menghentikan atau mengurangi operasi.
LSP di Vietnam misalnya dihentikan sementara sejak pertengahan Mei, sedangkan fasilitas Rayong Olefins di Thailand juga menjalani penghentian operasi akibat keterbatasan bahan baku. Untuk meredam risiko tersebut, perusahaan meningkatkan pasokan dari sumber di luar jalur Hormuz.
Langkah itu berjalan bersama efisiensi penggunaan energi. Hingga April 2026, energi alternatif telah menyumbang sekitar 23% kebutuhan energi termal seluruh bisnis SCG dan 30% pada operasi semen di Thailand.
Perusahaan juga mendorong penggunaan AI, machine learning, deep learning, dan robot kolaboratif untuk mengurangi biaya, memperkuat kontrol kualitas serta mengoptimalkan jaringan manufakturnya di ASEAN.
SCG Masih Waspadai Semester II
Meski kinerja membaik, SCG memperkirakan semester II 2026 tetap dibayangi ketegangan geopolitik, inflasi, persaingan harga dan biaya energi yang volatil. Perusahaan karena itu akan melanjutkan restrukturisasi, optimalisasi jaringan manufaktur regional, pengembangan produk High Value-Added serta proyek etana LSP. SCG menargetkan Adjusted Cash EBITDA sepanjang 2026 tetap lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Thammasak menegaskan strategi tersebut akan diteruskan untuk mempertahankan daya tahan bisnis.
“Meskipun kondisi ekonomi global pada semester II 2026 diperkirakan tetap penuh tantangan, SCG optimistis dapat menghadapinya dengan tetap tangguh melalui strategi yang telah diterapkan dan akan terus dikembangkan. Ke depan, kami akan terus mempercepat transformasi bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan jaringan manufaktur di ASEAN, serta berkolaborasi dengan mitra bisnis baru untuk mendorong pertumbuhan SCG yang berkelanjutan.”
Di Indonesia, pemulihan bisnis kemasan serta pertumbuhan penjualan 39% pada kuartal II menjadi salah satu penopang ekspansi regional SCG. Perusahaan kini menghadapi tantangan mempertahankan pertumbuhan tersebut ketika biaya energi dan bahan baku masih berfluktuasi, sembari memperbesar efisiensi dan investasi pada bisnis bernilai tambah tinggi.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Industri, Vietnam, dan Manufaktur dengan mengeklik tautan.

Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.