periskop.id - Humas Reuni 212 Buya Husein mengusulkan agar kegiatan tahunan tersebut dijadikan sebagai “Hari Persaudaraan Umat Islam dan Rakyat Indonesia”. Usulan ini disampaikan dalam konferensi pers di Monas, Jakarta, di tengah rangkaian acara.

Buya menegaskan, Reuni 212 telah berkembang menjadi ajang pemersatu masyarakat. 

“Reuni ini akan kita jadikan hari persaudaraan, hari persatuan umat Islam, hari kebersamaan. Bukan hanya milik umat Islam, tapi milik rakyat Indonesia bahkan sedunia,” kata Buya.

Panitia mengklaim bahwa berbagai reuni sebelumnya berhasil menyatukan jutaan peserta, bahkan mencapai belasan juta pada beberapa tahun awal. Massa yang besar inilah yang menjadi dasar mereka mengusulkan agar pemerintah menjadikan Reuni 212 sebagai peringatan formal. 

“Pada saat 2016 bahkan reuni kedua dan ketiga, massa yang hadir sampai 15 juta. Tidak ada satu waktu, satu tempat kumpul massa sampai belasan juta,” ujarnya.

Selain memperkuat ukhuwah, Reuni 212 juga menjadi momentum penggalangan dana kemanusiaan. Tahun ini, panitia menargetkan donasi untuk korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, serta untuk Palestina dan Sudan. 

Panitia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah Gubernur Pramono Anung, yang dinilai memperkuat legitimasi acara ini. 

“Kami sangat mengapresiasi dukungan luar biasa dari Pak Pramono Anung. Baru tahun ini dukungan Pemprov begitu luar biasa,” kata Buya.

Buya melanjutkan, Reuni 212 bukan hanya gelaran ritual, tetapi wadah kebersamaan lintas ormas Islam dan simpatisan. 

“Kita harap ke depannya pemerintah Indonesia juga Gubernur DKI akan menjadikan Reuni 212 sebagai hari persaudaraan umat warga negara Indonesia,” ujar mereka.

Reuni 212 sendiri berakar dari Aksi Bela Islam 2 Desember 2016, yang digelar di Monas, Jakarta. Aksi tersebut muncul sebagai respons terhadap pernyataan Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang dianggap sebagian kelompok sebagai penistaan agama terkait Surat Al-Maidah ayat 51. 

Demonstrasi ini menjadi salah satu aksi massa terbesar dalam sejarah modern Indonesia, dihadiri jutaan peserta dari berbagai daerah, dengan agenda doa bersama, salat berjemaah, zikir, dan tausiah. Momentum tersebut kemudian dijadikan dasar untuk Reuni 212 tahunan sejak 2017, yang bertujuan mempertahankan semangat ukhuwah, silaturahmi lintas ormas Islam, dan nilai spiritual dari momen 2016.