Periskop.id - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengingatkan masyarakat dari kalangan ekonomi mampu, tidak memanfaatkan program Sekolah Rakyat untuk keluarga atau kerabatnya. Pasalnya, program ini khusus untuk masyarakat paling tidak mampu secara ekonomi.
“Yang bisa sekolah di sini adalah mereka yang benar-benar layak sesuai kriteria. Tidak boleh ada praktik suap, sogok menyogok, serta tidak boleh ada titipan dalam proses seleksi,” kata Mensos Saifullah Yusuf setelah setelah mendampingi Presiden Prabowo meresmikan operasional 166 Sekolah Rakyat yang terpusat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1).
Mensos menegaskan, penekanan itu sangat penting agar Sekolah Rakyat tepat sasaran dan tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang sebenarnya mampu secara ekonomi. “Jika pengawasan longgar, tujuan utama program tersebut bisa melenceng,” ujarnya.
Ia sendiri menegaskan, dirinya tidak memiliki kewenangan untuk menitipkan calon siswa. Ini karena proses seleksi dilakukan berlapis dan harus dapat dipertanggungjawabkan oleh pemerintah daerah.
“Yang tanda tangan itu bupati, wali kota, dan gubernur. Kalau ada kesalahan, tentu bisa dimintai pertanggungjawaban,” ucapnya.
Selain itu, ia menegaskan proses seleksi juga melibatkan wawancara, verifikasi lapangan, serta pengecekan kondisi sosial ekonomi keluarga calon siswa.
Dengan mekanisme tersebut, kata Mensos, pemerintah berupaya memastikan hanya anak-anak yang benar-benar membutuhkan yang dapat mengakses program Sekolah Rakyat.
Pada peresmian Sekolah Rakyat yang terpusat di Banjarbaru itu, Presiden Prabowo pun menargetkan, sebanyak 500 Sekolah Rakyat dapat tercapai sampai tahun 2029.
“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, pada siang hari ini, Senin, 12 Januari 2026, saya Prabowo Subianto Presiden RI dengan ini meresmikan 166 Sekolah Rakyat di Indonesia," kata Prabowo.
Tes DNA Berbasis AI
Sekadar informasi, Sekolah Rakyat menjadi lembaga pendidikan nasional yang menerapkan inovasi terbaru, yakni tes DNA talenta berbasis teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk memetakan potensi siswa sejak awal pendidikan.
Mensos menjelaskan, penerapan tes DNA talenta dilakukan karena Sekolah Rakyat tidak menggunakan tes akademik dalam proses penerimaan peserta didik.
“Hasil tes DNA talenta membantu kami memahami potensi anak sejak awal sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan bakat dan minat masing-masing siswa,” kata Mensos Saifullah Yusuf.
Berdasarkan hasil tes DNA talenta yang dilakukan sementara, lanjutnya, ditemukan 1.828 siswa berpotensi di bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM). Dari jumlah tersebut 1.204 siswa memiliki bakat di bidang teknik, seperti mekanik, teknisi otomotif, insinyur sipil, operator industri, hingga arsitek.
Selain itu sebanyak 39,6% atau 1.938 siswa berpotensi di bidang sosial, 23% atau 1.123 siswa di bidang bahasa, serta 16% atau 8.860 siswa memiliki potensi di bidang penegakan hukum, seperti notaris, hakim, tentara, polisi, dan pengacara.
Pemetaan potensi tersebut, menurut Mensos, sekaligus menjadi dasar penyusunan kurikulum dan pengembangan kemampuan siswa Sekolah Rakyat. Untuk diketahui, saat Sekolah Rakyat telah beroperasi di 166 titik di berbagai daerah sebagai bagian dari strategi nasional pengentasan kemiskinan melalui pendidikan.
Kurikulum yang diterapkan bersifat personal melibatkan guru tersertifikasi, serta didukung pembinaan karakter melalui wali asuh dan wali asrama. Pembelajaran juga didukung sistem Learning Management System (LMS) dengan penggunaan laptop sebagai media belajar, sementara penggunaan telepon genggam dibatasi.
Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan seluruh siswa Sekolah Rakyat mendapatkan mendapatkan pengawasan penuh selama 24 jam karena menerapkan skema berbasis asrama. Dengan begitu tidak hanya pendidikan formalnya yang terjamin, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG), makan dengan gizi seimbang tiga kali, plus dua kali makanan selingan setiap harinya.
"Tes talenta ini pemerintah mendapat dukungan penuh, ya, oleh pakar pengembangan sumber daya manusia, Ary Ginanjar Agustian. Turut melibatkan para pakar pendidikan dalam sebuah tim formatur, dan sekolah swasta jadi dapat kami sampaikan terima kasih atas kolaborasi multisektor seperti itu," pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar