Periskop.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang, Jawa Barat, meminta masyarakat terus meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana banjir. Imbauan ini dilontarkan mengingat masih tingginya intensitas hujan di daerah tersebut.
"Sampai saat ini Subang masih berstatus siaga bencana, khususnya banjir. Jadi masyarakat diminta untuk terus meningkatkan kewaspadaan," kata Kepala BPBD Subang Udin Jazudin di Subang, Senin (2/2).
Sesuai dengan catatan BPBD Subang, banjir akibat meluapnya beberapa sungai yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Hingga kini, banjir masih merendam ribuan rumah di lima kecamatan sekitar Subang.
Sebanyak 11.271 Kepala Keluarga (KK) yang terdiri atas 31.270 jiwa terdampak banjir yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Selain itu banjir di daerah tersebut juga masih merendam 18 bangunan sekolah, 27 sarana ibadah, dan merendam areal sawah seluas 2.110 hektare.
Lima kecamatan yang hingga kini masih terendam banjir yaitu Kecamatan Pamanukan (Desa Bongas, Pamanukan, Rancahilir, Lengkongjaya, Rancasari, Mulyasari, Pamanukan Hilir dan Pamanukan Sebrang). Lalu, Kecamatan Legonkulon (Desa Bobos, Karangmulya, Legonkulon, Legonwetan, Mayangan, Pangarengan dan Desa Tegalurung).
Kemudian Kecamatan Blanakan (Desa Muara, Tanjungtiga, Cilamaya Girang, Langensari, Blanakan, Rawamekar, Jayamukti, Rawameneng dan Desa Cilamaya Hilir). Selanjutnya, Kecamatan Pusakanagara (Desa Mundusari, Kotasari, Pusakaratu, Gempol, Rancadaka, Patimban dan Desa Kalentambo), serta Kecamatan Sukasari (Desa Anggasari, Batangsari, Curugreja, Mandalawangi, Sukamaju, Sukareja dan Desa Sukasari).
Udin menyampaikan, pemerintah daerah melalui BPBD Subang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, serta peran aktif. Khususnya dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
"Upaya penanggulangan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat. Kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan warga Subang menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko dan dampak bencana," tuturnya.
Mengungsi ke Klolong jembatan
Sabtu (31/1), ratusan warga terdampak banjir di wilayah Pantura Kabupaten Subang, Jawa Barat, bahkan harus mengungsi di kolong jembatan layang Pamanukan, karena banjir masih merendam rumah mereka.
"Sudah berhari-hari banjir belum surut. Jadi harus mengungsi," kata Didi, salah seorang warga terdampak banjir di wilayah Pamanukan, Subang, Sabtu.
Ia bersama keluarga dan tetangganya memilih untuk mengungsi di area kolong jembatan, karena lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah, sehingga mudah untuk mengevakuasi barang-barang yang masih ada di rumah. Area di kolong jembatan, kata dia, selalu menjadi tempat pengungsian warga terdampak banjir setiap kali terjadi banjir.
Ditanya mengenai tempat pengungsian yang disediakan pemerintah, ia menyebut lokasinya terlalu jauh. Karena itu, ebanyakan warga memilih untuk tetap mengungsi di kolong jembatan.
"Kalau mengungsi di lokasi yang terlalu jauh, susah bawa barang-barang," ucap Didi.
Sebelumnya, Bupati Subang Reynaldy Putra Andita dalam keterangannya di Subang, Sabtu, menyampaikan, sejak banjir terjadi, pemerintah daerah telah melakukan penanganan darurat untuk membantu warga yang terdampak banjir. Antara lain dengan memantau kondisi banjir di sejumlah titik dan memastikan warga terdampak banjir aman dan sehat.
Selain itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Subang mendirikan dapur umum di setiap desa yang dilanda banjir, guna memenuhi kebutuhan makanan warga terdampak meluapnya beberapa sungai di wilayah Subang.
Dalam penanganan banjir di daerahnya, Bupati Subang juga berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), agar badan tersebut memperhatikan kondisi tanggul sungai-sungai, sehingga tidak jebol yang bisa memperparah banjir.
Tinggalkan Komentar
Komentar