periskop.id - Cara masyarakat Indonesia berinteraksi dengan alkohol terus mengalami pergeseran. Kabar baiknya, Indonesia sedang bergerak menuju arah yang lebih sehat. Berdasarkan data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2023–2025, tren konsumsi alkohol nasional tercatat menurun, sebuah sinyal positif bagi target besar pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Namun, di balik penurunan ini, terselip fakta-fakta unik mengenai kontras gender yang mencapai 19 kali lipat hingga pengaruh tingkat ekonomi terhadap perilaku konsumsi alkohol. Mari kita bedah bagaimana peta konsumsi alkohol Indonesia berubah saat ini.
Konsumsi Alkohol di Desa Menurun Tajam!
Jika mendengar kata alkohol, bayangan banyak orang biasanya langsung tertuju pada gemerlap kehidupan malam di kota besar. Namun, data Susenas justru membalik anggapan itu. Faktanya, konsumsi alkohol di wilayah pedesaan secara konsisten lebih tinggi dibandingkan perkotaan.
Salah satu penyebab yang kerap disorot adalah keberadaan minuman beralkohol tradisional yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian dan budaya lokal di desa.
Hal yang membuat temuan ini semakin menarik adalah arah perubahannya. Dalam periode 2024–2025, justru masyarakat desa menunjukkan penurunan konsumsi yang jauh lebih tajam. Konsumsi alkohol di pedesaan turun 0,08 liter per kapita, sementara di wilayah perkotaan hanya berkurang tipis 0,01 liter per kapita.
Selisih ini menandakan adanya pergeseran perilaku yang cukup signifikan di pedesaan. Bisa jadi dipengaruhi oleh meningkatnya edukasi kesehatan hingga pelosok, menguatnya nilai-nilai lokal, atau perubahan akses terhadap minuman beralkohol itu sendiri.
Benarkah Alkohol Identik dengan Kelompok Mampu?
Jika membahas alkohol, pembicaraan tak bisa dilepaskan dari faktor ekonomi. Data menunjukkan ada pola yang cukup jelas antara besar kecilnya pengeluaran rumah tangga dan jenis konsumsi yang dipilih.
Kelompok rumah tangga dengan pengeluaran lebih tinggi cenderung mengonsumsi alkohol lebih banyak dibandingkan kelompok ekonomi bawah. Alasannya cukup masuk akal, mereka memiliki daya beli untuk menjangkau minuman beralkohol dengan harga relatif mahal, seperti bir, anggur (wine), hingga vodka.
Namun, ada kabar baik di balik temuan ini. Tren penurunan konsumsi alkohol secara nasional tetap terjadi, termasuk di kalangan ekonomi atas. Ini memberi sinyal bahwa kesadaran akan gaya hidup sehat mulai merata dan tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu saja.
Konsumsi alkohol juga sering digunakan sebagai indikator proksi untuk menilai potensi penggunaan alkohol berisiko, yang kerap dikaitkan dengan meningkatnya kriminalitas dan gangguan ketertiban umum. Artinya, ketika konsumsi alkohol menurun, ada harapan ruang publik menjadi lebih aman dan kondusif. Dari sini terlihat bahwa isi dompet dan kesehatan masyarakat saling berkaitan, dan kabar baiknya, hubungan itu belakangan bergerak ke arah yang lebih positif.
Data BPS Ungkap Konsumsi Alkohol Pria 19 Kali Lebih Tinggi
Salah satu temuan paling mencolok dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 adalah perbedaan konsumsi alkohol berdasarkan jenis kelamin. Angkanya bahkan cukup mengejutkan. Konsumsi alkohol penduduk laki-laki usia 15 tahun ke atas tercatat 19 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan.
Kesenjangan ini menegaskan satu hal penting, pria masih menjadi kelompok paling rentan dan sekaligus sasaran utama dalam upaya edukasi serta pencegahan penyalahgunaan zat adiktif.
Pola sosial, tekanan lingkungan, hingga budaya nongkrong sering kali membuat konsumsi alkohol lebih lekat dengan laki-laki.
Namun, ada sisi optimistis dari data ini. Tren penurunan konsumsi terjadi pada kedua kelompok, baik laki-laki maupun perempuan. Artinya, kesadaran untuk mengurangi alkohol mulai tumbuh secara merata di masyarakat.
Upaya ini bukan semata soal menghindari risiko penyakit seperti gangguan hati atau jantung. Lebih dari itu, ini adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan dan kesejahteraan sosial. Penurunan yang konsisten selama tiga tahun terakhir menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia sedang bergerak menuju masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan semakin peduli pada kualitas hidup.
Tinggalkan Komentar
Komentar