Periskop.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat aktivitas gempa susulan pascagempa bermagnitudo 6,2 di wilayah tenggara Pacitan, Jawa Timur, sudah mulai menunjukkan penurunan frekuensi. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, di Jakarta, Sabtu (7/2), menjelaskan, hingga saat ini tercatat sebanyak 24 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar 4,0 dan terkecil 2,2.
"Frekuensi kejadian gempa susulan sudah menurun dan jarang terjadi, mohon masyarakat tidak terlalu khawatir berlebihan. Sudah luruh," ujarnya.
BMKG mencatat gempa susulan paling banyak terjadi pada rentang waktu pukul 01.00 hingga 06.00 WIB pada kemarin pagi, dengan jumlah mencapai 11 kejadian.
Sebelumnya, BMKG mendeteksi gempa bumi bermagnitudo 6,2 terjadi pada Jumat (6/2) pukul 01.06 WIB dengan pusat gempa berada di laut pada kedalaman 58 kilometer di tenggara Pacitan, yang merupakan gempa megathrust dengan kedalaman dangkal.
Guncangan gempa tersebut dirasakan dengan intensitas IV MMI di Pacitan, Bantul, Yogya dan Sleman, III MMI di Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Blitar, Surakarta, hingga Banjarnegara, serta II MMI di Tuban dan Jepara.
BMKG menyatakan akan terus melakukan pemantauan aktivitas kegempaan dan mengimbau masyarakat tetap waspada, mengikuti informasi resmi, serta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Berdasarkan laporan sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Jumat sore gempa tersebut berdampak pada 224 jiwa yang tersebar di tiga provinsi. Dari jumlah itu, 40 orang dilaporkan mengalami luka di Kabupaten Bantul.
Guncangan dirasakan kuat selama dua hingga tiga detik di Kabupaten Pacitan dan Trenggalek serta dirasakan di sejumlah wilayah di Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Wilayah terdampak meliputi Kabupaten Pacitan dan Trenggalek di Jawa Timur, Kabupaten Bantul di DI Yogyakarta, serta Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar, dan Wonogiri di Jawa Tengah.
Kerusakan sementara tercatat pada rumah dan fasilitas umum, antara lain di Jawa Timur sebanyak 29 rumah, satu fasilitas pendidikan, dan satu balai desa. Di Jawa Tengah berdampak ke 18 rumah, lima fasilitas pendidikan, serta masing-masing satu fasilitas peribadatan, kesehatan, dan fasilitas umum. Sementara di DI Yogyakarta dilaporkan delapan rumah terdampak beserta fasilitas pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan tempat ibadah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur mencatat ,delapan bangunan terdiri atas tujuh rumah warga dan satu balai desa rusak ringan, akibat gempa bermagnitudo 6,4 berpusat di tenggara Kabupaten Pacitan, Jumat dini hari.
Adapun BPBD Kabupaten Pacitan, Jawa Timur mencatat, sedikitnya 15 bangunan mengalami kerusakan akibat gempa bumi tersebut. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan Radite Suryo Anggono di Pacitan menjelaskan, bangunan yang terdampak tersebar di beberapa kecamatan, antara lain Pacitan, Arjosari, Nawangan, Pringkuku, Kebonagung, Bandar, dan Sudimoro.
Gempa bumi juga turut dirasakan hingga Kabupaten Ponorogo dan mengakibatkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan. Salah satu rumah terdampak berada di Desa Bogem, Kecamatan Sampung, Ponorogo. Pemilik rumah Milan Sayekti mengatakan, bagian belakang rumahnya mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memastyikan akan menanggung biaya perawatan korban luka di daerahnya akibat gempa bumi Pacitan.
"Masyarakat enggak usah khawatir, nanti Pemkab Bantul akan membiayai korban terdampak gempa Pacitan yang dirawat di rumah sakit," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul Agus Budi Raharja, di Bantul, Jumat.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Bantul, jumlah korban luka imbas gempa bumi Pacitan, Jumat dini hari sebanyak 36 orang. Terdiri atas delapan orang menjalani rawat inap dan 28 orang rawat jalan.
Tinggalkan Komentar
Komentar