Periskop.id - Yogyakarta KA 721 yang merupakan rangkaian kereta apicommuter line (KRL) yang melayani rute Palur-Yogyakarta sempat terhenti di Stasiun Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (27/1). Peristiwa tersebut merupakan imbas gempa bumi tektonik magnitudo (M) 5,7 yang terjadi di Pacitan, Jawa Timur, Selasa, pukul 08.20 WIB. 

Manajer Humas KAI Daop 6 Yogyakarta Feni Novida Saragih mengatakan, penghentian sementara seluruh perjalanan kereta api sebagai prosedur keselamatan pascagempa. Seluruh perjalanan kembali berjalan normal pada pukul 08.48 WIB.

"Pemeriksaan prasarana pascagempa merupakan prosedur yang wajib dilakukan KAI untuk memastikan aspek keselamatan tetap terjaga," ujar Feni saat dikonfirmasi di Yogyakarta, Selasa.

Ia menjelaskan tim lapangan KAI Daop 6 Yogyakarta langsung memeriksa seluruh prasarana perkeretaapian, meliputi jalur rel, jembatan, serta fasilitas pendukung lainnya.

Setelah hasil pemeriksaan menyatakan seluruh lintas dan jalur aman, kata dia, perjalanan kereta api kembali diizinkan beroperasi. Selama proses pemeriksaan tersebut, Feni menyebut sebanyak 16 perjalanan kereta api sempat berhenti sementara, termasuk KRL Yogyakarta-Palur KA 712 dan KA 721.

Sementara itu, salah seorang penumpang KRL KA 721 Intan Martha B mengakui, kereta yang ditumpanginya sempat berhenti saat tiba di Stasiun Maguwoharjo. Penghentian perjalanan tersebut disampaikan kepada penumpang melalui pengumuman menggunakan pengeras suara di dalam kereta.

"Gempa tidak terasa, tapi saya tahu dari pengumuman di kereta bahwa kereta tidak bisa jalan karena ada gempa sehingga perlu dilakukan pengecekan jalur kereta," ujar karyawan BUMN asal Solo yang menyebut, kereta berhenti sekitar 25 menit sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Cek Kerusakan
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi tektonik bermagnitudo M5,7 terjadi pada pukul 08.20 WIB dengan episenter di darat 24 kilometer tenggara Pacitan, Jawa Timur, pada kedalaman 122 kilometer. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan memastikan, hingga beberapa jam setelah kejadian belum menerima laporan kerusakan akibat gempa tersebut. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 08.20 WIB dengan pusat gempa berada di koordinat 8,14 derajat Lintang Selatan (LS) dan 111,33 derajat Bujur Timur (BT) atau sekitar 25 kilometer timur laut Pacitan, dengan kedalaman 105 kilometer.

Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Erwin Andriatmoko mengatakan, pihaknya telah melakukan pemantauan dan koordinasi dengan seluruh kecamatan serta sejumlah desa untuk memastikan dampak gempa di wilayah tersebut. “Berdasarkan hasil komunikasi dengan Kasi Sosial dan Ketenteraman di seluruh kecamatan serta laporan sampel dari beberapa desa, hingga saat ini tidak ada laporan kerusakan,” kata Erwin.

Meski tidak menimbulkan kerusakan di Pacitan, kata dia, guncangan gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah daerah di Jawa Timur dan sekitarnya. BMKG mencatat intensitas gempa dirasakan pada skala III–IV MMI di Pacitan, Karangkates, dan Tulungagung. 

Kemudian skala III MMI di Malang, Nganjuk, Ponorogo, dan Blitar. Selain itu skala II–III MMI di Madiun, Jember, Mojokerto, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Bali bagian selatan. Di Kabupaten Trenggalek, Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Triadi Atmono melaporkan adanya dampak ringan akibat gempa, berupa rontoknya atap genting di SDN 3 Pogalan serta di wilayah Kecamatan Dongko.

Peristiwa tersebut menyebabkan beberapa siswa dan pegawai mengalami luka ringan. Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung Sudarmaji menyatakan pihaknya masih melakukan pendataan lanjutan terhadap dampak gempa di wilayahnya dan belum menerima laporan kerusakan berat.

Aktivitas warga di sejumlah lokasi sempat terhenti sesaat akibat guncangan gempa. Di Pacitan, warga yang berada di perkantoran dan fasilitas umum dilaporkan sempat keluar bangunan untuk mengamankan diri.