Periskop.id - Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan kapasitas kepala Sekolah Rakyat menjadi penentu utama kualitas sistem pendidikan di program tersebut. Karena itu, ia menilai peningkatan kemampuan kepemimpinan perlu terus berjalan seiring bertambahnya tanggung jawab.
Menteri yang akrab disapa Gus Ipul itu menguraikan, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak diukur dari lahirnya segelintir siswa berprestasi. Tolok ukur sesungguhnya, menurutnya, adalah kemampuan sekolah membangun sistem yang mampu mengembangkan seluruh peserta didik.
"Berjuang berarti berorientasi pada perubahan nyata bagi siswa, proaktif membaca kebutuhan, mengambil inisiatif menyelesaikan persoalan, serta mengukur keberhasilan dari perkembangan anak-anak yang dilayani," kata Gus Ipul di Jakarta, Rabu.
Gus Ipul turut memaparkan hasil survei yang melibatkan 174 kepala Sekolah Rakyat menjelang dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Survei itu mencatat tingkat kesiapan mental kepala sekolah di angka 8,95 dari skala 10, sementara keyakinan dalam pengambilan keputusan berada di 8,74 dari 10.
"Sebanyak 72% responden mengaku memandang penugasan di Sekolah Rakyat sebagai tantangan yang memacu semangat, dan 94% menyatakan telah memiliki orientasi kepemimpinan jangka panjang sebagai pembangun sistem pendidikan," katanya.
Namun survei yang sama juga membuka sejumlah tantangan yang masih perlu segera ditangani. Hanya 18% kepala sekolah yang menyatakan siap sepenuhnya menghadapi MPLS, sementara 26% mengaku siap sebagian.
Sisanya, 38% masih menghadapi kendala signifikan dan 17% mengaku belum siap sama sekali. Kondisi ini, menurut Gus Ipul, perlu menjadi perhatian serius semua pihak.
Para kepala sekolah juga menyampaikan berbagai kebutuhan yang mendesak, di antaranya tambahan guru dan tenaga kependidikan, pendampingan langsung dari Pusdiklat, kejelasan anggaran, serta pelatihan dan pembekalan lanjutan.
Di lapangan, masih ditemukan sejumlah persoalan teknis. Mulai dari ketersediaan sumber air di salah satu lokasi Sekolah Rakyat permanen, penyelesaian status kepegawaian dan SK kepala sekolah di beberapa tempat, hingga pembangunan gedung permanen yang belum rampung.
Merespons berbagai masukan tersebut, Gus Ipul memastikan Kementerian Sosial bersama satuan kerja terkait akan menindaklanjutinya. Ia menegaskan para kepala sekolah tidak akan menghadapi tantangan ini sendirian.
Gus Ipul juga meminta seluruh kepala sekolah membangun disiplin pribadi sebelum menuntut kedisiplinan siswa, jujur menyampaikan persoalan tanpa menutupinya, tetap tenang di bawah tekanan, serta berani mengevaluasi diri sebelum mengevaluasi bawahan.
"Kalau ada 28 anak berkembang, sementara dua anak tertinggal, itu bukan sekadar persoalan dua anak. Itu persoalan sistem. Mari kita bangun sistem agar semua siswa bisa terlayani. Tidak ada siswa yang tertinggal," pungkas Gus Ipul.
Tinggalkan Komentar
Komentar