Periskop.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, melaporkan krisis air bersih akibat kemarau kian meluas. Pemerintah Kabupaten Majalengka resmi menetapkan status siaga darurat kekeringan, setelah BPBD menyalurkan sedikitnya 15.000 liter air bersih ke sejumlah desa terdampak.
Krisis air kini merambah ke dua desa di Kecamatan Kadipaten, yaitu Cipaku dan Heuleut.
Wilayah Kadipaten sebelumnya sudah masuk peta kawasan rawan kekurangan air bersih setiap kemarau tiba.
Penetapan status siaga darurat ini disebut bertujuan mempercepat antisipasi dampak kekeringan, terutama di sektor pertanian dan pemenuhan kebutuhan air warga. BPBD pun terus memantau titik-titik rawan agar distribusi bantuan tepat sasaran.
Secara regional, bencana kekeringan telah melanda 17 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Berdasarkan data BPBD Provinsi Jawa Barat, krisis air ini berdampak pada lebih dari 200.000 warga yang tersebar di 95 kecamatan.
Sebagai penanganan darurat, BPBD se-Jawa Barat telah menyalurkan total lebih dari 4 juta liter air bersih. Dari 17 daerah terdampak, Kabupaten Bogor tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kekeringan terparah dan cakupan area terluas.
Selain krisis air, BPBD Kabupaten Majalengka juga memperkuat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya. Langkah ini diambil menyusul sejumlah insiden kebakaran lahan yang muncul dalam waktu singkat, kurang dari dua pekan, selama kemarau 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka Agus Tamim memaparkan, tercatat 12 kejadian kebakaran lahan dengan luas total area terbakar mencapai 10,85 hektare. Seluruh insiden itu terjadi dalam rentang 12 hingga 21 Juli 2026.
"Peningkatan kejadian tersebut menjadi dasar bagi kami untuk mengintensifkan edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran," ujar Agus Tamim di Majalengka, Kamis (23/7).
Agus menekankan pentingnya peran aktif warga dalam menjaga lingkungan sekitar. BPBD mengimbau masyarakat menghindari pembukaan lahan dengan cara dibakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan di area vegetasi kering, serta segera melaporkan titik api sekecil apa pun.
Kolaborasi antara petugas lapangan dan kesadaran masyarakat, menurutnya, menjadi kunci utama menekan angka karhutla di Majalengka.
"Masyarakat diharapkan berperan aktif dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan," pungkas Agus Tamim.
Tinggalkan Komentar
Komentar