Periskop.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan status Awas untuk potensi kekeringan meteorologis di tujuh provinsi. Peringatan ini menyusul intensitas El Nino yang diproyeksi melampaui kategori kuat dan bertahan hingga awal 2027.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, pihaknya memperkuat mitigasi lewat Operasi Modifikasi Cuaca di sejumlah wilayah prioritas. Ia menambahkan, BMKG juga menggalang respons cepat dan terintegrasi dari berbagai pihak untuk mengantisipasi lonjakan kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan.
"Wilayah Indonesia saat ini mengalami hari tanpa hujan dengan kategori sangat pendek hingga ekstrem panjang. HTH terpanjang selama 90 hari terjadi di pos hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta," tulis BMKG dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Juli 2026, Senin (3/8).
Data monitoring BMKG mencatat, hari tanpa hujan panjang selama 21-30 hari berturut-turut terjadi di 322 titik. Kategori sangat panjang (31-60 hari) tercatat di 1.657 titik, sementara kategori ekstrem panjang di atas 60 hari mencapai 306 titik.
Indeks IOD dasarian tercatat sebesar +0,715, sedangkan nilai SSTA di region Nino3.4 mencapai +2,45. Kedua indikator ini, menurut BMKG, mengonfirmasi El Nino sedang berlangsung dengan intensitas kuat.
Status Awas berlaku di sebagian kabupaten/kota Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Level Siaga mencakup lebih banyak provinsi, termasuk Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Sulawesi Utara, hingga Gorontalo.
Sementara status Waspada mencakup wilayah yang lebih luas lagi, mulai dari Sumatra Selatan, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga DKI Jakarta, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.
BMKG mencatat, hingga akhir Juli 2026, sebanyak 73,8% wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Curah hujan pada Dasarian I Agustus 2026 diprediksi berada di kategori rendah hingga menengah, yakni 0-150 mm per dasarian.
BMKG merekomendasikan pelaku usaha tani menyusun ulang jadwal awal musim tanam dan memilih varietas tahan kering. Pengelola sumber daya air dan energi diminta menghitung ketersediaan air baku serta mengantisipasi dinamika produksi listrik PLTA.
"Pemangku kepentingan dan masyarakat luas perlu mewaspadai kondisi ini, sekaligus menyiapkan mekanisme respons cepat untuk mengantisipasi potensi perubahan sebaran penyakit DBD dan malaria, serta ancaman heat stroke akibat cuaca panas ekstrem," tulis BMKG.
Minimnya curah hujan disebut turut menekan kualitas udara, yang berpotensi menaikkan risiko penyakit ISPA di berbagai daerah. Di sisi lain, BMKG menyebut pelaku sektor perikanan dan tambak garam dapat memanfaatkan momentum kemarau untuk mengoptimalkan produksi garam serta memaksimalkan fenomena upwelling guna menaikkan hasil tangkapan ikan.
"Tak kalah penting, pengelola sektor kehutanan dan kebencanaan wajib meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan serta potensi kebakaran hutan dan lahan," tegas BMKG.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar