Periskop.id - Permukaan air Sungai Danube di perbatasan Serbia dan Romania anjlok akibat kekeringan yang melanda kawasan itu sepanjang musim panas. Kondisi tersebut memunculkan kembali puluhan bangkai kapal perang Jerman peninggalan Perang Dunia II yang selama puluhan tahun terendam di dasar sungai.
Di dekat pelabuhan Prahovo, Serbia, lambung kapal berkarat dan tiang yang telah patah kini tampak jelas di atas permukaan air. Kapal-kapal tersebut merupakan bagian dari armada Laut Hitam milik Nazi Jerman, yang dulu mengibarkan bendera Nazi di tiangnya.
Warga Prahovo, Krsta Brandic menyebut surutnya Sungai Danube nyaris menghentikan lalu lintas kapal di kawasan tersebut. "Seperti yang bisa Anda lihat, kapal-kapal besar sudah tidak bisa melintas lagi," kata Brandic di Prahovo, Serbia.
Menurut catatan sejarawan sebagaimana dilaporkan Associated Press, hingga 200 kapal perang Jerman sengaja ditenggelamkan di dekat Prahovo pada September 1944, di kawasan ngarai Sungai Danube. Penenggelaman itu dilakukan pasukan Jerman yang tengah mundur dari Romania untuk menghambat laju pasukan Soviet di Balkan.
Sebagian kapal itu diketahui masih membawa persenjataan hingga kini. Nazi Jerman sendiri baru menyerah beberapa bulan setelah peristiwa penenggelaman tersebut, tepatnya pada Mei 1945.
Kemunculan kembali bangkai-bangkai kapal itu mengingatkan pada persoalan lama yang berusaha ditangani pemerintah Serbia dengan dukungan dana Uni Eropa. Sebagian bangkai kapal sempat diangkat dari Sungai Danube oleh pemerintah Yugoslavia pada era komunis.
Namun sebagian besar bangkai lainnya dibiarkan tetap berada di dasar sungai karena masih membawa bahan peledak. Pemerintah kini berupaya menjaga lalu lintas kapal di Danube tetap berjalan, di tengah permukaan air yang terus menurun dan membuat pelayaran semakin berbahaya.
Dampak surutnya Sungai Danube ternyata jauh lebih serius dari sekadar munculnya bangkai kapal tua. Permukaan air yang mencapai titik terendah membuat sejumlah pembangkit listrik di kawasan itu terancam berhenti beroperasi.
Pemerintah di berbagai negara Eropa Tengah dan Timur mulai mengambil langkah penghematan listrik untuk mengantisipasi krisis tersebut. Sungai Danube sendiri melintasi 10 negara, sehingga dampak kekeringan ini meluas ke banyak wilayah.
Para ahli mengaitkan cuaca panas tidak biasa itu dengan pemanasan global dan sejumlah faktor lain. Fenomena ini menjadi pengingat perubahan iklim mulai berdampak langsung pada infrastruktur energi dan transportasi sungai di Eropa.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar