Periskop.id - Prestasi membanggakan datang dari cabang olahraga Kabaddi di ajang SEA Games 2025 Thailand. Tim nasional kabaddi Indonesia sukses menutup debut mereka dengan catatan manis setelah berhasil menyumbangkan medali emas dari nomor three stars putri.
Kemenangan ini sekaligus menjadi medali emas ke 80 bagi kontingen Merah Putih di pesta olahraga terbesar se Asia Tenggara tersebut.
Dilansir dari Antara pada Kamis (18/12), partai final yang berlangsung di Rajamangala University of Rattanakosin, Nakhon Pathom, menyuguhkan duel yang sangat menegangkan. Tim putri Indonesia berhasil menumbangkan Malaysia dengan skor tipis 23-22 melalui kemenangan yang dramatis.
Hasil ini melengkapi performa impresif mereka yang sebelumnya juga memuncaki klasemen fase round robin. Sementara itu, di nomor three stars putra, Indonesia harus puas membawa pulang medali perunggu setelah menempati peringkat ketiga pada klasemen akhir.
Asal Usul
Kemenangan gemilang Indonesia ini membangkitkan minat publik untuk mengenal lebih jauh tentang asal usul Kabaddi. Merujuk pada data resmi Federasi Kabaddi Dunia, olahraga ini merupakan salah satu permainan tertua di dunia yang berasal dari India.
Akar sejarahnya telah terdeteksi lebih dari 4.000 tahun yang lalu. Dalam karya sastra India kuno yang sangat legendaris, Mahabharata, digambarkan sebuah pertempuran epik antara Abhimanyu, pewaris para Raja Pandawa, melawan kaum Kurawa di perkemahan musuh.
Diceritakan bahwa Abhimanyu berhasil menembus tujuh lapis pertahanan lawan yang kuat, namun ia akhirnya gugur karena tidak mengetahui jalan keluar dari formasi tersebut. Filosofi pertahanan berlapis inilah yang kemudian menjadi dasar teknik dalam permainan kabaddi modern.
Selain dalam naskah Mahabharata, sejarah juga mencatat bahwa tokoh agung Gautama Buddha memainkan kabaddi sebagai sarana rekreasi pada masa mudanya, yang menunjukkan betapa populernya olahraga ini di kasta bangsawan maupun masyarakat umum pada masa itu.
Secara teknis, kabaddi adalah permainan tim luar ruang yang dimainkan di permukaan tanah yang rata dan lunak. Permainan ini menuntut perpaduan unik antara keterampilan, kekuatan fisik, serta karakteristik yang menyerupai gulat dan rugby.
Awalnya, kabaddi diciptakan untuk melatih kemampuan bela diri, kecepatan respons terhadap serangan, serta refleks serangan balik secara individu maupun kelompok.
Hal yang paling unik adalah kabaddi menjadi satu satunya olahraga kombatif di mana serangan dilakukan oleh satu orang individu secara mandiri, sedangkan pertahanan merupakan upaya kolektif oleh tim lawan.
Menghadapi sekelompok lawan sendirian tanpa mengalami cedera menuntut kebugaran fisik dan mental yang sangat luar biasa. Pemain harus memiliki kemampuan konsentrasi tinggi, kelincahan, koordinasi otot, hingga kemampuan menahan napas yang prima saat melakukan serangan.
Aturan Main dan Istilah dalam Kabaddi
Melansir dari Federasi Kabaddi India, setiap tim terdiri dari tujuh orang pemain yang bertanding selama 40 menit. Durasi ini dibagi menjadi dua babak masing masing 20 menit dengan jeda istirahat selama 5 menit.
Inti dari permainan ini adalah mencetak poin dengan cara melakukan serangan ke area lawan dan menyentuh pemain bertahan sebanyak mungkin tanpa tertangkap. Seluruh aksi serangan tersebut harus dilakukan dalam satu tarikan napas.
Pemain penyerang yang disebut sebagai Raider wajib masuk ke wilayah musuh sambil terus meneriakkan kata “Kabaddi! Kabaddi! Kabaddi!” secara berulang sebagai bukti bahwa ia tidak menarik napas tambahan.
Di sisi lain, tujuh pemain bertahan yang disebut Antis akan melakukan berbagai manuver untuk menangkap Raider tersebut. Pemain bertahan yang tersentuh oleh Raider akan dinyatakan keluar jika mereka gagal menangkap sang Raider sebelum ia kembali ke wilayah timnya sendiri.
Perjalanan Menuju Panggung Dunia
Eksistensi kabaddi di kancah internasional terus berkembang pesat sejak pertama kali diakui melalui pertandingan ekshibisi pada Olimpiade Berlin 1936. Perjalanan regulasinya berlanjut pada Asian Games ke 9 di India tahun 1982 sebagai cabang ekshibisi, hingga akhirnya resmi dipertandingkan dalam South Asian Games 1984 di Bangladesh.
Sejak Asian Games ke 11 di Beijing tahun 1990, kabaddi telah menjadi cabang olahraga resmi yang rutin dipertandingkan.
Saat ini, Federasi Kabaddi Dunia sedang berupaya agar olahraga ini mendapatkan pengakuan penuh dari Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee). Syarat minimal yang harus dipenuhi adalah memiliki 50 federasi nasional yang berafiliasi di seluruh dunia agar kabaddi dapat segera dipertandingkan di ajang Olimpiade masa depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar