periskop.id - Di dunia dengan media sosial yang sudah menjadi cara hidup, fitur algoritma menjadi persaingan sengit dalam pikiran yang rasanya sulit untuk dimenangkan. Setiap hari, setidaknya satu kali, kita membuka media sosial. Ingin mencari tempat atau makanan enak? Cari saja di TikTok atau Instagram, maka segudang rekomendasi akan muncul. 

Tanpa kita sadari, fitur algoritma menjadi teman dekat yang terus bertumbuh lekat dan akrab. Namun, bagaimana jika teman dekat tersebut justru menghadirkan kekeliruan dalam berpikir? Ada satu masalah dari hidup yang disetir algoritma sehingga memudarkan batas antara kebenaran ilusi dan kebenaran yang sesungguhnya. 

Sekarang ini, setiap orang bebas untuk membuat konten seperti apa saja di media sosial. Mereka berhak untuk berpendapat, berhak untuk menunjukkan apa saja, dan berhak untuk membicarakan apa saja. Penyebaran informasi hampir tanpa batas, semua bercampur menjadi rangkaian algoritma yang “sesuai” dengan apa yang kita minati. 

Semakin kita menyukai sesuatu, semakin kita menonton topik tertentu, semakin kita mengikuti kasus tertentu, maka semua hal tersebut akan muncul di media sosial kita secara terus menerus. Semua hal itu akan mudah kita serap, kita percayai, dan kita bicarakan dalam topik sehari-hari.

Misalnya, suatu hari seseorang membuat konten bahwa keramas ketika sedang haid itu tidak boleh. Kamu menonton konten tersebut sampai habis untuk tahu alasannya apakah benar atau tidak. Dalam hati, sebenarnya kamu tidak percaya karena menurut kamu hal itu tidak masuk akal. 

Sampai tibalah ketika banyak konten serupa yang kamu temui setelahnya. Konten yang setuju dengan pendapat tersebut, konten yang mungkin menunjukkan pengalaman pribadinya tentang hal itu. 

Lalu, alih-alih divalidasi, keraguanmu justru menunjukkan arah sebaliknya. Perlahan, kamu mulai meragukan pemikiranmu, kamu mulai memercayai bahwa keramas ketika haid memang tidak boleh. Kamu mulai memercayai itu karena banyak orang yang beropini seperti itu, banyak orang yang berpikir dan memiliki pengalaman serupa. 

Lantas, apakah informasi yang kamu lihat secara terus-menerus itu menunjukkan kebenaran? Atau justru kamu menganggap itu sebagai kebenaran karena kamu telah melihatnya berulang kali?

Dalam dunia psikologi, fenomena tersebut dinamakan illusory truth effects, yaitu sebuah fenomena ketika seseorang memercayai kebenaran suatu informasi karena dia mendengar informasi tersebut berulang kali, tidak peduli apakah informasi tersebut benar atau salah. 

Studi tentang illusory truth effects pertama kali terjadi pada 1977 ketika para peneliti psikologi menemukan bahwa setiap kali pernyataan yang tidak benar diulang, kepercayaan peserta terhadap validitas tersebut meningkat. 

Kenapa Ini Bisa Terjadi?

Otak akan lebih mudah memproses sesuatu yang familiar. Jika kamu lebih familiar dengan larangan keramas saat haid, otak kamu akan memproses bahwa keramas ketika haid akan memunculkan dampak negatif. Apalagi, semakin banyak dan semakin sering kamu menenggelamkan diri dengan konten yang serupa, kamu akan merasa familiar. Merasa familiar membuat kamu merasa bahwa itu benar. Lalu, otakmu akan memproses bahwa itu adalah fakta.

Kita Membagikan Informasi Palsu Tanpa Kita Sadari

Bayangkan, kamu membuka sebuah konten yang berisi informasi palsu. Meski kamu tidak memercayai informasi tersebut pada awalnya, kamu tetap melihatnya atau membacanya sampai habis. Lalu, apa yang terjadi? 

Algoritma akan menilai bahwa konten tersebut menarik. Konten yang dianggap menarik, akan menjangkau lebih banyak orang. Menjangkau lebih banyak orang artinya akan lebih banyak lagi yang melihat konten tersebut. Begitulah cara algoritma menelan kesadaran manusia, sebuah perang sengit yang sulit untuk kita menangkan.

Namun, informasi palsu terjadi bukan karena kita kurang berpikir kritis, bukan berarti kita bodoh dalam mencerna informasi. Kenyataannya, menelan banyak informasi sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh manusia modern. 

Seperti yang sudah dikatakan di awal bahwa saat ini media sosial bukan hanya sekadar gaya hidup, tetapi sudah menjadi cara hidup. Illusory truth effect bisa terjadi pada siapa saja, termasuk orang yang sering berpikir kritis sekali pun. Hal ini terjadi karena dalam dunia nyata, kebenaran erat kaitannya dengan kelancaran. Dalam hal ini, kelancaran dalam menerima informasi.

Kenapa Hal Ini Bahaya?

Bagaimana jika perang di masa sekarang ini bukan lagi menggunakan senapan atau bom, tetapi senjata perang paling mematikan justru ada pada algoritma.

Setiap orang menggunakan paling tidak satu media sosial dalam kesehariannya. Dengan adanya algoritma, informasi akan mudah menyebar tanpa disadari. Bahkan, kita bisa kesulitan untuk menyaring informasi apa yang ingin kita lihat. Akan selalu ada satu atau lebih konten yang berisi informasi yang tidak relevan dengan yang kita minati. 

Hal ini bisa dimanfaatkan oleh siapa saja untuk menyebarkan konten yang berisi informasi yang salah. Misalnya, propaganda politik yang disebarkan secara halus di media sosial hingga dianggap benar karena penyebarannya yang masif, berita palsu yang dikemas dengan baik dan disebarkan secara terus menerus, sampai iklan dari sebuah produk yang belum tentu jelas asal-usulnya. 

Hanya karena kita melihat konten yang sependapat atau familiar, kita menganggap semua itu benar. Bayangkan betapa banyaknya pemikiran seseorang yang diarahkan untuk memercayai konten-konten tertentu.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Hidup bersisian dengan algoritma bukanlah sesuatu yang bisa kita hindari. Untuk memahami informasi yang kita terima apakah benar-benar fakta atau hanya sekadar kebenaran ilusi, kita perlu “sadar”. Menyadari setiap informasi yang kita lihat, menyadari ke mana algoritma akan membawa pemikiran kita. 

Ketika melihat konten yang serupa secara terus menerus, kita perlu menyadari bahwa familiar tidak sama dengan fakta. Periksalah sumber aslinya, bukan hanya rangkuman, lalu baca atau pahamilah berulang kali. Paling penting, jedalah sejenak untuk bertindak lebih jauh. Pikirankan apakah informasi tersebut layak diterima dan dibagikan atau perlu diabaikan saja.