periskop.id - Apa arti gelar akademik, pengalaman profesional, dan prestasi pribadi ketika semua itu seolah tak lagi relevan begitu seorang perempuan mengenakan seragam organisasi?

Pertanyaan ini kembali mengemuka setelah sebuah video dari kreator konten @ikisembiring ramai dibicarakan di media sosial. Dalam video tersebut, ia melontarkan kritik tajam terhadap posisi perempuan di organisasi istri yang dinilai masih kerap menempatkan istri sebatas pelengkap, bukan sebagai individu yang berdiri utuh dengan identitas dan kapasitasnya sendiri.

Pernyataan ini sontak memicu ribuan komentar. Banyak yang merasa relate, tapi ada juga yang merasa itu adalah bentuk pengabdian. Lantas, benarkah budaya organisasi kita masih menempatkan istri sekadar sebagai “aksesori"? Mari kita bedah fenomena ini lebih dalam.

Hilangnya Identitas di Balik Nama Suami

Metafora "aksesori" yang didengungkan oleh kreator Iki Sembiring sejatinya adalah cermin tajam bagi realitas sosial kita. Istilah ini menelanjangi praktik budaya yang masih menempatkan perempuan semata-mata sebagai pelengkap, sosok yang fungsinya hanya menopang citra suami, bukan sebagai individu yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Pandangan ini bukan sekadar opini media sosial, melainkan selaras dengan kajian akademik. Penelitian mengenai pola komunikasi dalam organisasi istri prajurit mengungkapkan fakta bahwa relasi kuasa di dalamnya merupakan cerminan yang sangat kuat dari jenjang pangkat suami. Akibatnya, interaksi sosial tidak lagi dibangun berdasarkan kapasitas personal anggotanya.

Hal ini diperparah dengan kebiasaan memanggil istri menggunakan nama suami. Akibatnya, identitas asli perempuan perlahan hilang. Tidak peduli setinggi apa sekolahnya atau sehebat apa kariernya, semua itu seolah tidak berarti jika dibandingkan dengan pangkat suami.

Masalah ini bermula dari salah kaprah dalam mengartikan prinsip wanita sebagai pendamping suami. Niat awalnya adalah menjadi partner yang mendukung, tapi praktiknya sering kebablasan menjadi tuntutan untuk mematikan keinginan pribadi. Istri dikondisikan untuk patuh demi karier suami yang lama-kelamaan bisa mengikis rasa percaya diri mereka.

Ketika Gelar Akademik Tak Lagi Relevan

Salah satu poin diskusi yang mengemuka di kolom komentar @ikisembiring adalah mengenai budaya ketika hierarki jabatan suami sering kali terbawa ke dalam interaksi sosial para istri.

Sebagai gambaran, seorang istri yang memiliki karier profesional seperti dokter atau manajer, tetap diharapkan menyesuaikan diri dengan tata krama hierarki organisasi berdasarkan pangkat suaminya, terlepas dari pencapaian pribadinya di luar. Hal ini dijelaskan dalam riset Jurnal Mediasosian sebagai konsekuensi dari struktur organisasi, yaitu ketika posisi istri sering kali dipandang sebagai refleksi dari status suami sehingga identitas personal atau prestasi individu cenderung menjadi nomor dua.

Kondisi ini terkadang menimbulkan tantangan tersendiri bagi wanita karier. Ada perbedaan suasana yang cukup kontras antara dunia kerja mereka yang berbasis kompetensi dengan lingkungan organisasi yang mengikuti tatanan hierarki pasangan. Kritik yang muncul kemudian menyoroti harapan agar organisasi bisa menjadi wadah yang lebih inklusif dan memberdayakan sesama perempuan, tanpa terlalu terpaku pada sekat-sekat jabatan.

Dampak paling serius dari narasi perempuan sebagai aksesoris adalah krisis identitas. Psikolog sering mengingatkan bahwa menggantungkan harga diri (self-worth) pada faktor eksternal, seperti jabatan suami adalah bom waktu. Apa yang terjadi jika suami pensiun? Atau jika terjadi perceraian? Istri yang terbiasa menjadi aksesoris akan kehilangan panggung dan mengalami krisis identitas. Inilah yang sering memicu post-power syndrome.