Periskop.id — Di tengah gencarnya investasi asing yang membanjiri industri kendaraan listrik (EV) nasional, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan agar pemerintah tidak lengah. Menurutnya, alih teknologi perlu dijadikan syarat mutlak dalam setiap investasi industri otomotif, termasuk EV, agar Indonesia benar-benar memperoleh nilai tambah, bukan sekadar menjadi lokasi pabrik perakitan bagi produsen global.
Yusuf mengatakan pengalaman selama ini menunjukkan masuknya investasi asing tidak serta-merta diikuti dengan transfer teknologi kepada industri dalam negeri.
"Pengalaman menunjukkan bahwa alih teknologi tidak terjadi secara otomatis hanya karena investasi masuk," kata Yusuf saat dihubungi di Jakarta, Jumat (31/7).
Empat Langkah Konkret yang Diusulkan
Menurut dia, pemerintah perlu menjadikan transfer teknologi sebagai salah satu syarat yang dinegosiasikan sejak awal dengan investor agar investasi mampu memperkuat daya saing industri otomotif nasional dalam jangka panjang. Ia menyebut sejumlah langkah yang dapat ditempuh, antara lain mewajibkan investor membangun pusat riset di Indonesia, meningkatkan peran insinyur lokal dalam kegiatan rekayasa dan desain, mengembangkan pemasok domestik dengan target yang terukur, serta menyelenggarakan program pelatihan tenaga kerja yang didanai investor.
"Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat karena didukung pasar domestik yang besar dan sumber daya mineral strategis. Posisi itu seharusnya dimanfaatkan untuk memperoleh nilai tambah, bukan hanya menarik investasi," ujarnya.
Bayang-bayang Pergeseran Tren Baterai Dunia
Yusuf menilai strategi tersebut juga penting untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik nasional. Menurut dia, Indonesia memang memiliki peluang besar berkat cadangan nikel yang melimpah sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik. Namun, keunggulan tersebut tidak akan bertahan selamanya karena sebagian produsen global mulai beralih ke teknologi baterai lithium iron phosphate (LFP) yang tidak bergantung pada nikel.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Di beberapa negara sekitar 80% instalasi baterai kendaraan listrik kini telah menggunakan teknologi LFP, memicu pertanyaan sejumlah investor mengenai prospek permintaan bahan baku berbasis nikel di masa depan. Sementara itu, dalam sebuah webinar bertajuk Tantangan Industri EV di Indonesia sebagaimana dikutip, pengamat energi Sigit mewanti-wanti agar kebijakan nasional tidak sampai terlambat beradaptasi dengan kemunculan teknologi baterai alternatif seperti sodium-ion, yang berpotensi menggeser peta persaingan global.
Meski demikian, sejumlah pihak juga menilai keunggulan nikel Indonesia masih relevan untuk jenis baterai nickel manganese cobalt (NMC), yang dinilai lebih terintegrasi dengan hilirisasi mineral domestik dibanding LFP yang justru masih bergantung pada bahan baku impor seperti litium dan fosfat.
Bukan Sekadar Jadi Pabrik, tapi Pusat Inovasi
Yusuf juga mengingatkan bahwa menjadi pusat produksi kendaraan listrik saja belum cukup untuk meningkatkan daya saing industri nasional. Menurut dia, Indonesia juga perlu membangun kapasitas inovasi melalui riset bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri, menyusun standar teknis nasional untuk teknologi baterai dan kendaraan listrik, serta memanfaatkan pengadaan pemerintah sebagai pasar awal bagi produk hasil inovasi dalam negeri.
Penjualan EV Melesat, Investasi Baterai Tembus Rp96 Triliun
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan Indonesia tengah memasuki fase baru sebagai basis produksi otomotif, termasuk dalam pengembangan kendaraan elektrifikasi. Sepanjang semester I 2026, penjualan kendaraan elektrifikasi mencapai 117 ribu unit atau meningkat 69,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah tersebut setara dengan 26,8% dari total penjualan kendaraan penumpang nasional, dengan sekitar 69 ribu unit di antaranya merupakan battery electric vehicle (BEV).
Derasnya investasi ini turut tergambar dari skala megaproyek ekosistem baterai EV yang tengah dibangun di dalam negeri. Salah satu proyek rantai industri baterai dari hulu hingga hilir menelan investasi hingga US$5,9 miliar atau sekitar Rp96,04 triliun, mencakup penambangan nikel, pemurnian melalui smelter, hingga produksi material katoda dan sel baterai. Skala investasi sebesar ini yang menurut Yusuf semestinya diimbangi dengan kewajiban transfer pengetahuan dan teknologi, agar Indonesia tidak hanya kebagian pekerjaan perakitan, tetapi juga penguasaan ilmu di baliknya.
Tinggalkan Komentar
Komentar