periskop.id - Sekolah Rakyat memilih jalan berbeda: bukan lagi mengukur anak lewat ujian, melainkan memetakan kekuatan mereka dengan bantuan DNA talent berbasis teknologi.
"Karena tidak ada tes akademik di sekolah rakyat, maka kami melakukan tes DNA talent berbasis teknologi untuk memetakan potensi siswa," ungkap Menteri Sosial Saifullah Yusuf dalam peresmian 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1).
Menurut laporan resmi, Sekolah Rakyat telah beroperasi di 166 titik yang tersebar di 34 provinsi, menampung hampir 16.000 siswa dengan ribuan tenaga pendidik dan kependidikan; inisiatif ini dipimpin oleh Kementerian Sosial di bawah koordinasi lintas kementerian dan kepala daerah.
Teknologi yang dipakai disebut TalentDNA ESQ, dikembangkan dan dipopulerkan oleh Ary Ginanjar (ESQ Group).
“Untuk pertama kali ini, kami terima kasih kepada Pak Ari Ginanjar yang telah mendukung dan menyediakan tes DNA talent,” lanjut menteri yang akrab disapa Gus Ipul itu.
Pendekatan ini mengombinasikan algoritme dan psikometri untuk menganalisis profil, minat, dan memberi rekomendasi jalur pengembangan karier.
Di Sekolah Rakyat, hasil pemetaan talenta dipakai untuk menyusun kurikulum personal dan jalur vokasional atau akademik yang sesuai. Pembelajaran difasilitasi lewat LMS dan laptop untuk setiap siswa dan guru, sementara penggunaan ponsel dibatasi untuk menjaga fokus.
Di asrama, wali asuh membentuk kebiasaan hidup sehat, disiplin, dan kemandirian. Kombinasi yang menurut pengelola mempercepat perbaikan perilaku dan prestasi dasar seperti kemampuan membaca.
“Untuk pembinaan kedisiplinan, saya sungguh terima kasih dibantu oleh panglima TNI dan jajaran. Dari sisi keamanan, sekolah rakyat juga kami dibantu oleh Kapolri dan seluruh jajaran,” lanjut Gus Ipul.
Hasil enam bulan menunjukkan indikator kesehatan dan perilaku yang membaik. Kasus individual seperti Nazril, siswa yang awalnya kesulitan membaca lalu menjadi lebih lancar dipakai sebagai contoh dampak intervensi terpadu.
Pada akhirnya, pemetaan berbasis DNA tetap menimbulkan pertanyaan etis: privasi data genetik, persetujuan orang tua, dan potensi stigmatisasi.
Praktik terbaik yang direkomendasikan oleh literatur adalah: persetujuan tertulis yang jelas, enkripsi data, penggunaan hasil sebagai rekomendasi (bukan label tetap), dan pengawasan independen untuk mencegah penyalahgunaan.
Tinggalkan Komentar
Komentar