periskop.id - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, meminta para lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk tidak memandang kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) sebagai pengganti peran guru. Di tengah masifnya pemanfaatan teknologi dalam pendidikan, Fajar menekankan bahwa fungsi utama guru tetap berada pada pembentukan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan.
Fajar menyebut, meskipun lebih dari 78% organisasi global telah memanfaatkan AI, guru tidak boleh kehilangan peran substantifnya dalam proses pendidikan.
“Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses pemanusiaan manusia. Di sinilah peran guru menjadi penentu arah dan makna pemanfaatan teknologi,” ujar Fajar saat menghadiri Yudisium Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Surakarta, dikutip dari rilis resmi Kemendikdasmen, Senin (2/2).
Fajar mengakui, otomatisasi dan AI telah mengubah pola kerja, termasuk di sektor pendidikan. Proyeksi pemangkasan hingga 57% jam kerja global akibat otomatisasi dinilai menjadi tantangan nyata yang harus diantisipasi oleh dunia pendidikan. Namun, ia menegaskan bahwa AI seharusnya tidak mengambil peran manusia sebagai mana mestinya.
Menurutnya, pemanfaatan AI seperti Papan Interaktif Digital (PID) dapat mendukung pembelajaran yang lebih personal dan efisien. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa empati, keteladanan, dan kebijaksanaan tetap menjadi wilayah yang tidak dapat diambil alih oleh teknologi.
“AI bisa membantu personalisasi belajar dan analitik pembelajaran, tetapi nilai keteladanan dan pembentukan karakter tidak bisa digantikan,” katanya.
Meskipun AI membantu dalam pendidikan, Fajar juga menyoroti risiko penggunaan AI yang tidak terkendali di ruang pendidikan. Mulai dari ketergantungan berlebihan hingga melemahnya daya kritis peserta didik. Karena itu, ia menilai peningkatan literasi digital guru harus dibarengi dengan penguatan kapasitas pedagogik dan etika profesi.
Ia menambahkan, orientasi pembelajaran ke depan tidak lagi sebatas apa yang diajarkan, tetapi mengapa dan bagaimana proses itu dilakukan. Pendekatan tersebut, menurut Fajar, selaras dengan filosofi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang menekankan kemampuan berpikir kritis.
“Kita latih kemampuan mereka dalam mengembangkan pertanyaan, bukan sekadar menjawab pertanyaan. Kualitas pertanyaan menunjukkan sistem berpikir anak,” jelasnya.
Di sisi kebijakan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah memasukkan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan, baik secara terintegrasi maupun melalui kegiatan ekstrakurikuler. Hingga tahun ajaran 2025/2026, puluhan ribu guru diklaim telah mengikuti pelatihan terkait literasi digital dan berpikir komputasional.
Selain soal teknologi, Fajar juga mengingatkan soal distribusi guru. Ia meminta lulusan PPG bersikap profesional apabila ditempatkan di daerah terpencil.
“Anak-anak kita yang ada di Flores, di Talaud, berhak mendapatkan guru dan pendidikan terbaik,” tegasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar