Periskop.id - Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan strategi pembinaan remaja yang lebih adaptif melalui pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Salah satunya guna mencegah dari jerat judi online.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad mengatakan, media sosial menjadi ruang strategis untuk menjangkau remaja. Terutama Generasi Z dan Generasi Alpha yang sangat dekat dengan platform digital.

"Fasilitator BRUS diharapkan aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi bagi remaja. Platform seperti TikTok memiliki potensi besar untuk menyampaikan pesan pembinaan yang relevan dan mudah diterima," ujar Abu Rokhmad dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/2). 

Ia menyebut, metode ceramah masih tetap diperlukan dalam pembinaan remaja. Namun, penyampaiannya tidak boleh monoton. Fasilitator didorong menggunakan pendekatan yang kreatif, komunikatif, dan kontekstual agar pesan yang disampaikan dapat terserap secara optimal.

Maka dari itu, Sebanyak 100 calon fasilitator dari berbagai wilayah di Indonesia, dilatih untuk mendapatkan pemahaman mendalam mengenai tugas-tugas saat memberikan pendampingan kepada remaja usia sekolah.

Menurutnya, hampir seluruh remaja saat ini aktif menggunakan media sosial. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi fasilitator BRUS untuk hadir memberikan edukasi positif dan konstruktif, melalui konten yang disesuaikan dengan karakter dan bahasa remaja.

Abu juga menyinggung masih maraknya kenakalan remaja, seperti judi online dan pergaulan bebas yang berpotensi menurunkan kualitas moral, prestasi, hingga masa depan generasi muda. Oleh karena itu, kehadiran konten edukatif di media sosial dinilai penting sebagai upaya pencegahan dan penguatan karakter.

"Melalui konten yang bermanfaat, fasilitator BRUS dapat menanamkan nilai-nilai moral, pengendalian diri, serta pentingnya menjaga pergaulan yang sehat," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah Zudi Rahmanto menegaskan, pentingnya penguatan peran fasilitator BRUS sebagai pendamping utama remaja, di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan lingkungan digital yang dinamis.

"Fasilitator BRUS diharapkan memberikan layanan yang berdampak nyata bagi remaja. Kunci utamanya adalah pemahaman mendalam terhadap kebutuhan dan karakter mereka," ujar Zudi.

Ia menjelaskan, pembinaan melalui BRUS tidak hanya berfokus pada aspek pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter. Remaja perlu dibekali kemampuan memahami diri sendiri, mengenali potensi dan batasan, serta mengelola konflik dalam kehidupan sosial.

Zudi juga mengulas tantangan kenakalan remaja, termasuk maraknya judi online yang menyasar usia muda. Menurutnya, persoalan tersebut memerlukan pendekatan edukasi yang mencerahkan, solutif, dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan formal.