Periskop.id – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai mendorong transformasi Jatinangor, Sumedang, menjadi kawasan pendidikan terpadu bertajuk “Kota Pelajar Jatinangor”. Penataan ini tidak hanya menitikberatkan pada penguatan peran akademik, tetapi juga pada pembenahan infrastruktur dan keselamatan lingkungan kampus.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan kesiapan pemerintah daerah dalam merealisasikan konsep tersebut.
"Pemprov sudah sangat siap menata, dan itu menjadi kawasan baru yaitu kawasan pendidikan atau dalam bahasa saya Kota Pelajar Jatinangor," ujarnya di Sumedang, Minggu.

Menurut Dedi, pengembangan kawasan tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan seluruh perguruan tinggi di Jatinangor agar konsep yang dibangun benar-benar terintegrasi.
“Jadi saya sudah meminta waktu itu pada teman-teman perguruan tinggi untuk merumuskan secara bersama-sama karena itu kawasan pendidikan, sehingga merumuskan cara bersama bagaimana menata kawasan itu sebagai kawasan pendidikan terpadu,” ujarnya.

Jatinangor selama ini dikenal sebagai salah satu simpul pendidikan tinggi terbesar di Jawa Barat. Di kawasan ini berdiri sejumlah kampus besar seperti Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Teknologi Bandung (kampus Jatinangor), dan Universitas Winaya Mukti. Keberagaman institusi tersebut menjadikan Jatinangor sebagai pusat pendidikan multidisiplin yang strategis.

Aspek Lebih Luas
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, jumlah mahasiswa di wilayah Sumedang, yang sebagian besar terkonsentrasi di Jatinangor, mencapai puluhan ribu orang setiap tahunnya. Sementara itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah perguruan tinggi terbanyak di Indonesia, yakni lebih dari 400 institusi (Kemendikbudristek, 2025).

Dengan potensi tersebut, Dedi menilai penataan kawasan harus mencakup aspek yang lebih luas dari sekadar pendidikan. Pemerintah daerah, kata dia, siap mendukung pembiayaan untuk pengembangan kawasan.
"Saya meminta pada rektor-rektor itu, silakan berkumpul, silakan rumuskan kawasan itu secara bersama-sama. Nanti kita hitung pembiayaannya," tambahnya.

Selain penguatan ekosistem akademik, perhatian utama diarahkan pada penataan ruang dan sistem mobilitas. Aktivitas kendaraan yang padat di kawasan kampus dinilai kerap mengganggu keselamatan mahasiswa, khususnya pejalan kaki.

Pemprov Jabar melihat persoalan ini sebagai isu krusial yang harus segera diatasi melalui desain kawasan yang lebih ramah pedestrian, pengaturan lalu lintas, serta integrasi transportasi publik.

Sejumlah studi juga menunjukkan, kawasan pendidikan yang terintegrasi mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan kenyamanan mahasiswa. Laporan UNESCO (2023) menyebutkan, lingkungan kampus yang aman dan terhubung dengan baik dapat meningkatkan produktivitas akademik hingga 20%.

Dengan pendekatan kolaboratif dan dukungan kebijakan yang terarah, Jatinangor diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga kawasan urban yang tertata, aman, dan berkelanjutan bagi generasi muda.