periskop.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatatkan kinerja keuangan positif sepanjang 2025 dengan pertumbuhan aset, kredit, serta profitabilitas yang tetap solid di tengah dinamika ekonomi global.

Direktur Utama BRI Heri Gunardi menyampaikan, kinerja perseroan hingga akhir 2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan, didukung transformasi bisnis serta kondisi industri perbankan yang stabil.

“Hari ini BRI melaksanakan press conference untuk laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2025 yang lalu,” ujar Heri Gunardi dalam paparan kinerja keuangan BRI, Kamis (26/2).

Secara konsolidasi, total aset BRI tercatat tumbuh 7,1% secara tahunan menjadi Rp2.135 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7,4% menjadi Rp1.497 triliun, didorong penguatan dana murah yang turut menekan biaya dana perseroan.

“Porsi dana murah yang terus meningkat tersebut memberikan dampak yang positif terhadap cost of fund BRI, tercatat cost of fund dana pihak ketiga pada akhir tahun 2025 mengalami penurunan menjadi sebesar 2,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,1%,” jelasnya.

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BRI tumbuh 12,3% secara tahunan menjadi Rp1.521 triliun atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang berada di kisaran 9,6%. Menurut Heri, pertumbuhan kredit tersebut tetap diimbangi dengan prinsip kehati-hatian sehingga kualitas aset tetap terjaga.

“Pertumbuhan kredit BRI yang mencapai double digit tersebut mampu diimbangi dengan penyaluran yang lebih prudent dan tumbuh secara sehat, hal ini tercermin dari rasio NPL sebesar 3,07% hingga akhir 2025,” katanya.

Selain itu, perseroan juga berhasil menurunkan rasio Loan at Risk (LAR) dari 10,7% pada 2024 menjadi 9,6% pada akhir 2025. Perbaikan fundamental tersebut turut mendorong peningkatan profitabilitas perusahaan.

“BRI berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp57,132 triliun hingga akhir tahun 2025,” ujar Heri.

Lebih lanjut, Heri menegaskan BRI terus mengambil peran strategis dalam mendukung program prioritas pemerintah, khususnya melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur, dengan sektor pertanian menjadi kontributor terbesar pembiayaan

“BRI ini memang dari dulu adalah backbone-nya untuk penyaluran kredit usaha rakyat,” tegasnya.

Di tengah persaingan industri perbankan yang semakin kompetitif, BRI juga menjalankan transformasi terintegrasi melalui program ‘BRIvolution Reignite’ yang diluncurkan pada April 2025 untuk memperkuat daya saing jangka panjang.

Reignite itu artinya di-burn, di-push lagi untuk lebih baik dan lebih bersemangat, yang dirancang untuk memperkuat daya saing perseroan secara berkelanjutan,” kata Heri.

Transformasi tersebut difokuskan pada penguatan struktur pendanaan berbasis dana murah, revitalisasi bisnis inti mikro dan SME, serta pembangunan mesin pertumbuhan baru di segmen consumer banking. Heri menambahkan, kombinasi transformasi bisnis, likuiditas yang kuat, serta kualitas kredit yang terjaga menjadi fondasi penting bagi BRI untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan pada 2026.

“Melalui kombinasi peningkatan produktivitas transaksi dan penguatan kualitas aset ini, BRI memastikan pertumbuhan yang dicapai tetap sehat dan berkelanjutan,” tutupnya.