Periskop.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menerima sebanyak 1,4 ton cabai merah dari Aceh yang kemudian dijual kepada masyarakat melalui gerai-gerai Pasar Jaya.
"Sudah memulai hari Jumat kemarin kami mengambil cabai-cabai dari Aceh. Kami ambil 1,4 ton," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat meninjau Pasar Senen Blok III, Jakarta Pusat, Senin (22/12).
Dia menyampaikan, kualitas cabai dari Aceh cukup baik dan diminati masyarakat. Adapun cabai-cabai tersebut dijual Rp40 ribu per kilogram (kg) atau di bawah harga pasar, yakni Rp50 ribu per kg.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, lanjutnya, membuka peluang bekerjasama dengan Aceh untuk komoditas cabai melalui skema pertanian kontrak (contract farming) atau sistem kerja sama antara petani dengan perusahaan-perusahaan untuk produksi pertanian.
"Pak Gubernur juga setuju kalau kita punya contract farming dengan wilayah setempat, kalau memang nanti teman-teman di Aceh bisa mengadakan untuk stok cabai di Jakarta, itu akan jauh lebih baik," tuturnya.
Dia meminta jajarannya menjaga kualitas komoditas cabai yang diterima. Sebelumnya, Kementerian Pertanian membeli 40 ton cabai dari sejumlah sentra di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah untuk menjaga kelancaran distribusi dan melindungi penghasilan petani di tengah kondisi pascabencana banjir bandang dan tanah longsor.
"Langkah penyerapan ini merupakan bentuk kehadiran negara agar petani tidak terlalu rugi akibat bencana dan hasil panen mereka tetap terserap pasar," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Dari 40 ton, sebanyak 15 ton dikirim langsung ke Jakarta menggunakan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara (AU). Pengiriman dilakukan dari Bandara Rembele menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Sedangkan sisanya dikirim ke wilayah Medan, Sumatera Utara. Untuk penyaluran cabai di Jakarta, Kementerian Pertanian berkoordinasi dengan pedagang cabai di Pusat Informasi Pasar Kramat Jati (PIKJ).
Ia menuturkan, langkah itu merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta agar setiap pesawat Hercules dan helikopter yang mengangkut bantuan logistik ke Bandara Rembele, tidak kembali dalam kondisi kosong. Pesawat bisa dimanfaatkan untuk mengangkut hasil panen petani.
“Ini pesawat bolak-balik ke Aceh, angkut bantuan dari pemerintah, maupun bantuan dari saudara-saudara kita. Jadi pulangnya kosong,” tegasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar