Periskop.id - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti resmi membuka Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia tahun 2026, di Kantor Kemendag RI, Jakarta, Jumat (2/1).
“Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia tahun 2026 resmi saya buka. Semoga tahun ini menjadi tahun yang baik untuk sektor ini ke depannya,” kata Roro.
Roro mengatakan, penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan peran serta manfaat perdagangan berjangka komoditi (PBK) bagi perekonomian nasional. Hal ini senada dengan data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) yang menunjukkan kinerja PBK dan inovasi produk yang diperdagangkan pada tahun lalu.
“Tadi juga sudah disampaikan beberapa progres dari sektor ini dan kami yakin bahwa kontribusinya juga sangat dinantikan, dan juga kelihatan bahwa ini berkontribusi terhadap pengembangan ekonomi nasional kita,” ujar Roro.
Secara khusus, ia menyoroti lemak dan minyak nabati termasuk minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang masih menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia pada tahun lalu dengan nilai US$28,37 miliar.
Secara umum, ia meminta para pemangku kepentingan di industri perdagangan berjangka komoditi untuk terus mendorong transaksi melalui bursa berjangka.
“Serta mengoptimalkan tata niaga dan ekosistem yang ada, utamanya melalui mekanisme pembentukan harga serta harga acuan yang menjadi salah satu manfaat dan peran dari perdagangan berjangka komoditi itu sendiri,” tuturnya.
Roro juga berharap agar komoditas unggulan yang belum diperdagangkan di bursa berjangka, dapat segera diperdagangkan demi mendapat manfaat pembentukan harga, harga acuan serta manfaat lindung nilai atau pun hedging.
“Dengan optimalnya manfaat dari PBK tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan negara serta mampu menjaga surplus neraca perdagangan Indonesia,” iumbuhnya.
Selain itu, Wamendag turut mengapresiasi seluruh upaya literasi dan edukasi yang telah diselenggarakan pemangku kepentingan PBK. Termasuk proses peralihan pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital, seperti aset kripto dan serta derivatif keuangan di pasar modal dan instrumen di pasar uang dan pasar valuta asing.
“Ke depan, literasi dan edukasi ini perlu dijaga konsistensinya serta ditingkatkan intensitasnya untuk menjamin perlindungan masyarakat sebagai konsumen yang bermuara pada meningkatnya kepercayaan masyarakat itu sendiri. Jadi sosialisasi itu merupakan kunci dan fondasi dari semuanya,” jelas Roro.
Tren Positif
Sementara itu, Bappebti mencatat tren positif dalam perdagangan berjangka komoditas (PBK) Indonesia di sepanjang tahun 2025. Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya mengatakan, nilai nominal (notional value) dari transaksi PBK selama tahun 2025 adalah sebesar Rp48.867 triliun atau naik 49,8% secara tahunan (yoy), dengan jumlah volume transaksi sebesar 14,56 juta lot atau naik 12% yoy.
“Di tahun 2026 ini Bappebti telah menargetkan berbagai capaian yang bermuara pada pertumbuhan perdagangan berjangka komoditi Indonesia. Target ini disasarkan pada berbagai capaian pada tahun 2025 yang tentu memberikan optimisme terhadap capaian tahun 2026,” jelasnya.
Tirta menjelaskan, untuk perdagangan fisik timah murni batangan ekspor masih menunjukkan tren baik pada tahun lalu, dengan nilai transaksi Rp26,98 triliun dan volume transaksi senilai 9.380 lot. Sementara, untuk perdagangan emas fisik secara digital juga terus menjadi produk pilihan yang populer dengan nilai transaksi Rp107,43 triliun dan volume transaksi sebesar 55,58 metrik ton.
Lebih lanjut, ada juga perdagangan kontrak berjangka CPO dengan nilai transaksi Rp2,69 triliun dan volume transaksi senilai 30.341 lot tahun lalu.
Beberapa PBK dan inovasi produk yang diperdagangkan sepanjang tahun 2025 lainnya. Meliputi perdagangan kontrak Syariah Murabahah dengan nilai transaksi Rp693,47 miliar; perdagangan kontrak berjangka Brent Crude Oil dengan nilai transaksi Rp3,14 miliar; serta perdagangan kontrak Renewable Energy Certificate (REC) dengan nilai transaksi Rp1,84 miliar.
“Di tahun ini kami berharap target capaian transaksi PBK dapat terus ditingkatkan dengan inovasi-inovasi yang lebih baik, terutama melalui penguatan transaksi PBK berbasis komoditas. Harapannya peran PBK semakin signifikan dalam berkontribusi pada perdagangan ekonomi nasional,” kata Tirta.
Mengenai potensi dan tantangan PBK tahun 2026, Tirta mengatakan, salah satu yang perlu disoroti adalah transisi penyesuaian teknologi, proses kepatuhan (compliance), dan edukasi pasar.
“Tantangan-tantangan tersebut merupakan tantangan jangka pendek yang perlu diatasi agar (PBK) mempunyai potensi pertumbuhan menengah dan panjang, yang memerlukan penyesuaian kebijakan pada masing-masing regulator,” tuturnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut Bappebti telah melakukan berbagai upaya dari literasi secara rutin, melakukan pemblokiran atas website atau situs dan kegiatan perdagangan berjangka ilegal, hingga upaya kolaboratif bersama para pemangku kepentingan lainnya.
“Kami juga mengajak seluruh stakeholder industri perdagangan berjangka komoditi untuk bersama-sama berupaya lebih keras dan giat lagi di tahun 2026 ini untuk terus meningkatkan citra perdagangan berjangka komoditi di Indonesia,” imbuhnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar